Selasa, 24 Agustus 2010

5. Yang Lemah Itu...

Dorongan hasrat kemanusiaan Sahdam sekarang memang sudah tidak bisa di tolerir lagi, tak peduli siang atau malam, badai tornado menerjang dan jemuran tetangga beterbangan…Lho!? Tidak peduli apakah malam sudah sangat larut, tak peduli apakah barusan anak-anak satu tenda menceritakan penampakan-penampakan gaib yang bermunculan di sekitar tempat perkemahan yang ada di tengah hutan ini.

Aku tak peduli, aku tak peduli, aku pemberani, karena aku adalah lelaki sejati! yang penting hasrat ini terpenuhi, setelah itu pergi!! Dan kembali terbuai mimpi.

Semua peserta OSIS Camp  sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan langkah terburu-buru Sahdam segera meluncur  ke kamar  mandi.   Na’as Sahdam lupa memakai kacamatanya, sementara   lampu di kamar mandi ini mati. Dia jadi tidak bisa melihat dengan jelas. Bahkan letak daun pintu saja Sahdam tidak  tahu.

“Arrrgghhh…..!!!! “

Sahdam membuka engsel pintu, ternyata pintunya terkunci dari dalam.

Kurang asem! Ada yang mendahuluiku.

Sahdam menggedor-gedor pintu, namun tak ada jawaban. Lalu dia menanyakan siapa gerangan yang sedang menabung di dalam. Tapi masih tak ada jawaban. Sahdam mencoba untuk bersabar, diapun menunggu dalam diam.

Apa daya, tak ada lagi tempat untukku mengadu, selain padamu  kamar kecilku tersayang. Siapakah gerangan di dalam? Sebegitu tegakah kau membuatku menunggu lama, masa sih aku nyumbang di alam terbuka?

Dalam  penantian Sahdam, sayup-sayup telinganya menangkap suara tangisan yang sangat menyayat hati, tangisan lirih yang pilu. Semakin lama telinga Sahdam menangkap dengan jelas kalau itu adalah suara tangis seorang wanita. Tangis yang tertahan seakan tidak ingin terdengar oleh siapapun. Disertai dengan desahan nafasnya yang sangat berat. Dan sumber suaranya berasal dari dalam kamar mandi ini.  Sahdam langsung bergidik, bulu kuduknya berdiri, kedua bola matanya nyaris keluar semua saat engsel pintu kamar mandi bergerak-gerak sendiri, lalu pintunya berderit pelan dan terbuka. Meskipun rasa takut Sahdam lebih besar dari rasa penasarannya, Sahdam tetap ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita misterius yang menangis di dalam kamar mandi ini.

“Sahdam…?” ucap sosok wanita itu pelan. Wujudnya tak kelihatan karena menyatu dengan kegelapan di kamar  mandi.

 Dia mengenalku, ha-hantu ini mengenalku? Dia ngefans sama aku? Selama aku camping di sini dia pasti telah mengincarku. Ugh! kalau bukan karena mata bathinku dibuka, pasti aku nggak akan ngelihat setan terus….

 Sahdam berdiri mematung, berulangkali memukul-mukulkan senternya yang tiba-tiba mati. Meski tak melihat dengan  jelas, tapi Sahdam bisa merasakan sosok  gelap itu mendekatinya, dia terus mendekati Sahdam, seakan dia ingin menghimpit lelaki berkacamata itu ke tembok lalu melumatnya bulat-bulat.

“Sahdam…?” panggil sosok itu yang masih terisak. Sahdam langsung terduduk lemas di lantai. Sementara suaranya tercekat di tenggorokan.

“Arrrrrgggghhhhh Tolooooong…..” teriak Sahdam.

“Sahdam ini aku, Sabila!”

***

            Hari sudah hampir pagi, mereka berdua masih duduk di atas batu besar itu. Apa sajakah yang telah mereka lakukan selama berdua dari tadi malam sampai jam tiga dini hari ini? Apa sajakah? Ternyata hanya duduk dan tenggelam dalam kebisuannya masing-masing.

Masih belum tenangkah fikiran  Sabila, masih belum redakah tangisnya. Hmmm…dari awal aku ketemu dia. Dia selalu saja menyendiri. Gak peduli apakah  tempatnya angker atau nggak.

Meski tak minta di temani, tapi Sahdam tak tega membiarkan Sabila duduk sendirian. Meski Sabila berkata sudah terbiasa sendiri di sini, tapi Sahdam takut terjadi apa-apa padanya.

            “Aku kesepian, aku terasing di hadapan mereka semua. Tak dianggap kalau selama ini aku ada di tengah mereka.”

            Hanya kalimat itu, untuk malam  ini hanya kalimat itu yang berhasil Sabila katakan pada Sahdam, tak lebih.

Irrrrrritt sekali!

            “Hanya itu!?”

            “ya, hanya itu. Aku rasa aku gak harus capek-capek ngomong panjang lebar. Bukankah hanya dengan sekali menatap mataku kau bisa langsung tahu segala hal yang ada dalam fikiranku?”

            “Iya sih, tapi bukan berarti setiap aku pengin tahu masalah setiap orang aku harus menatap matanya!”

             “tanpa aku ngomongpun kau sudah tahu masalahku.” Ucap Sabila, dengan tatapan mata yang selalu menatap lurus kedepan. Tanpa menoleh sedikitpun pada Sahdam.

***

            Di malam ketiga OSIS camp ini,  Sahdam kembali memastikan  Sabila tidak menyendiri dan menangis lagi di atas batu besar yang ada di bawah pohon beringin itu.  Tapi  dugaan Sahdam salah.  Dia mendapati Sabila selalu datang lebih dulu.  Entah kenapa, tanpa mereka sepakati, tempat itu telah menjadi tempat terpavorit untuk mereka. Mungkin karena mereka sama-sama menyukai kesunyian dan ketenangan. Bagi Sahdam, saat itulah dia bebas menentukan pemahamannya sendiri, menentukan jalan fikirannya sendiri dan dalam kesunyian itulah Sahdam menemukan dirinya. Yang tidak bisa dia temukan dalam keramaian. 

            “Assalamualaikum, nona berjilbab lagi apa? Hmmm aku panggilnya nona berjilbab ya.  kan kalau Sabila sudah biasa gitu, boleh gak?” Sahdam mengawali pembicaraan.

”nona berjilbab? Panggilan yang aneh, lebih aneh lagi malah anak-anak OSIS pada manggil aku Autis.” Ucap Sabila seraya memamerkan seuntai senyum yang bermain di bibirnya, senyum yang memperlihatkan lesung pipitnya yang tersembunyi itu.

Hmmm manis…

“Kok kamu mau aja dipanggil Autis, itu kan ngena dan nusuk di hati, Bil?” Tanya Sahdam.

“Mungkin, karena aku terlalu lemah, pendiam dan selalu menyendiri. Selain itu kalau  suka sama sesuatu, aku selalu lupa segalanya.”

“Yang lemah itu kalau punya masalah pasti nangis,  yang kekanak-kanakan dan gak dewasa, yang hanya ingin di mengerti tanpa mau mengerti. Yang kalau punya masalah selalu di ceritakan padahal itu gak akan ngebantu dan malah bikin ancur. Yang hanya bisa diam tanpa bisa berbuat, yang hanya bisa bicara di belakang tanpa berani maju kedepan, yang tak mau berusaha tuk bisa hidup sendiri, Ketika ada api dia tidak bisa memadamkannya dan malah membuat api itu membesar, yang hanya bisa diam, bukan karena tak bisa bicara, melainkan tak berani.”

            “Ternyata semua kriteria orang lemah itu ada dalam diriku. Kata-katamu semakin meyakinkan diriku kalau selama ini aku memang sangat lemah.”

            “Aduh, maafin aku ya kalau kamu kesinggung, maaf ya Bil, aku cuma gemes aja kalau ngelihatin ada orang yang lemah. Karena aku jadi ingat masa laluku yang lemah.”

            “ Lalu, kalau sekarang kamu merasa sudah berubah jadi orang yang kuat dan bukan Sahdam yang lemah lagi, apa rahasianya?”

            “Rahasianya pengalaman, Bil.  Aku bilang bahwa yang lemah itu orang yang suka curhat segala macam. Jadi sebenarnya aku paham bahwa kalau curhat tentang setiap masalah, kita gak akan pernah bisa kuat, selain itu juga buka aib, bisa aja teman yang kita percaya jadi ngehianatin kita. Untuk apa juga kita mesti nangis? cuma buang-buang air mata aja. capek tahu Bil nangis terus.”

            Sabila tiba-tiba meringis, Ada rasa sakit yang sangat menyiksa yang mungkin sudah lama di tahannya. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya dingin dan lemas. Kedua tangannya terus memegang kepalanya yang sakit.

            “Sakit…” Sabila menggigit bibirnya menahan rasa sakit.

            “Bil, Sabila kenapa? Sabila? Sabila!??” 

            Sabila kehilangan keseimbangannya dan langsung jatuh tak sadarkan diri.

***

              Malam berikutnya,  Sahdam memperhatikan, Sabila tampak sibuk mengotak-atik kameranya. Sepertinya dia sangat menyayangi kameranya itu. Dari awal Sahdam bertemu dengannya, benda itu tidak pernah lepas dari tangannya. Jiwanya seperti ada dalam kamera itu, hembusan nafas dan denyut nadinya seperti ada dalam setiap objek gambar yang dia ambil. Bisa jadi kamera itu juga adalah pacar keduanya.

            “Sakit magh, kecapean, masuk angin dan demam panas…hmmm jangan telat makan lagi Bil. Udah makan belum?”

            “Belum, aku lagi males.” Ucap Sabila dengan entengnya. Konsentrasinya masih tertuju pada kameranya.

            “Ih, makan dong Bil, bisa sakit lagi. Makan ya Bil. Aku  juga punya magh, jadi aku tahu rasanya, makan ya.”

            “Sendiko dawuh kakang prabu, Titah kakang prabu akan diajeng laksanaken! Puas-puas, tak subhek, suobhek!”

“Alah, kamu kesurupan arwah mbah Tukul Arwana! Ora ngerti aku.” Tawa merekapun pecah.

Sahdam memperhatikan Sabila yang masih tertawa. “Kau semakin meyakinkanku bahwa kau adalah wanita yang hebat. Kau masih bisa tertawa lepas sementara tumor yang menyerang otakmu sudah stadium satu.”

           “Dasar! Gak sopan. Masa aku harus nutup mataku sih. Agar rahasiaku tidak terbaca matamu yang liar itu!”

           “Jangan salahkan mataku. Kemampuan yang kumiliki ini adalah warisan kakekku!”

“Pengakuan, itulah hal yang amat sangat  kuinginkan…” ucap Sabila pelan dan tawa Sahdampun langsung terhenti mendengar perkataan Sabila. Dia langsung memperhatikan Sabila dan menatap wajahnya dengan seksama.

            “Aku gak tahu harus bagaimana, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tak berhasil. aku adalah orang yang berjabatan di OSIS, tapi tugasku tak lebih dari seekor badut. Tak ada pengakuan.   seolah aku memang sendiri.  Aku tidaklah sebatang kara, tapi terkadang  kurasakan itu dalam keluarga. aku orang yang bersahabat dan ingin di sahabati, tapi semua seolah lenyap. Kuanggap semua sahabat, dan selalu berusaha masuk di dalamnya. Tapi ketika aku masuk, semua keluar dan hanya mensahabatiku ketika butuh. Tapi mereka seolah tak ingin aku sahabati ketika aku butuh. Hmmm…benar-benar tak ada pengakuan.

            Aku ingin berteriak pada mereka, Akuilah aku yang hanya aku yang seperti aku ini. Pandanglah aku sebagai manusia dan jangan memperalatku. Hati ini hanya ada satu. Dan takkan mampu tuk menampung semua rasa pahit ini.” Ucap Sabila lirih.

              Sahdam masih tak melepaskan pandangannya pada Sabila, semua kata-kata yang terucap dari mulut Sabila tak di lewatkan olehnya.

            “Bil, mereka semua bukanlah para peramal yang dapat mengetahui isi hati dan fikiranmu. Namun selama ini, aku sendiri merasa sangat kerdil karena tidak bisa membaca rona wajahmu, sedih saat melihat ada yang tidak beres dalam dirimu. Bil, aku ngerasa sangat bodoh. Tak berguna, tapi aku ini cowok dan bukan cewek yang peka perasaannya. Bil, mereka sama sekali tidak bisa merasakan perubahanmu, mereka seharusnya mengerti. Seharusnya mereka dapat menentukan sikap yang sesuai dengan kondisimu,

            Maafkan aku, terbukalah pada mereka, katakan  pada mereka apa yang kau rasa, katakanlah. Jangan diam saja, katakanlah Sabila…”

            Tatapan mata mereka beradu sebentar, lalu  Sabila langsung menunduk sambil memeluk lututnya erat. Dia membenamkam wajahnya diatas kedua lututnya. Lama sekali kebisuan itu kembali menyelimuti mereka. Hening, saat itu mereka menyatu dengan dinginnya hembusan angin yang menembus kulit jaket mereka. Menyatu dengan nyanyian hewan-hewan malam yang meramaikan hutan ini. Menyatu dengan percikan suara air sungai yang mengalir deras, menyatu dengan batu besar ini dan menyatu dengan alam.

            “Malam ini gelap banget. Bintangpun gak ada…” Sahdam menoleh pada Sabila. Sayup-sayup dia  mendengar suara hembusan nafas Sabila yang teratur  juga dengkuran kecilnya. Sabila tertidur, tidur untuk mengistirahatkan badan dan hatinya yang sudah sangatletih.

            “Pasti karena semua sibuk menjaga ratunya yang sekarang lagi tertidur lelap, yang terbuai dalam mimpi indahnya. God night Bil…”

***

            Malam ini Sabila tidak ada.  Sahdam tidak melihat gadis berjilbab yang kurus itu duduk di batu itu. Menghilang kemanakah pemilik senyum manis berlesung pipit itu? Padahal banyak hal yang sangat ingin Sahdam ceritakan. Semua tentang hal-hal yang dia sukai dan juga yang disukai  Sabila. Tentang koleksi komik terbaru Sahdam. Tentang Doraemon, tentang Naruto, tentang Dragon Ball, tentang main musik. Sahdam juga ingin minta diajarkan menggambar oleh Sabila dan meminta di ajarkan bagaimana mengambil objek gambar yang baik.

            Sahdam harus memastikan kalau Sabila ada di tendanya. Memastikan Sabila tidak menghilang. Sahdampun segera turun dan kembali ke tenda. Saat Sahdam sudah sampai di tempat itu, dia melihat semua  rekan sesama anggota OSIS duduk berkumpul. Keharuan tampak menyelimuti mereka. Mereka menangis bersama. Duduk saling  berdekapan erat satu sama lain. Diantara mereka ada seorang gadis yang seperti kesulitan bernafas saking eratnya dia dipeluk oleh kawan-kawannya. Dia duduk di tengah-tengah mereka.  Dia gadis pemilik senyum manis berlesung pipit itu.

            “Aku cuma ingin tertawa ketika kalian tertawa, karena aku ngerti apa yang kalian tertawakan. Aku cuma ingin menangis saat kalian nangis, karena aku ngerti apa yang kalian tangisi. Maaf kalau aku udah jahat ngeganggu kesibukan kalian dengan hal remeh temeh kayak gini.”

            “Nggak Bil, Justru makasih banget, kamu udah ngasih jalan buat kami untuk berubah dan tahu apa yang mesti kami lakukan sama kamu. Kami kira selama ini kamu tuh cuma pengin waktu buat menyendiri. Maka dari itu kami gak mau ngeganggu kamu.”

            “Makasih kamu udah berbicara tentang apa yang kamu rasa selama ini, makasih banget Bil. Kau bukan orang lain dimata kami, kau sahabat kami, sodara kami, bagian dari jiwa kami. Kamu istimewa Bil, sangat istimewa. Kita semua sayang Sabila, sayang banget…”

             Sabila masih berada dalam dekapan erat mereka. Dekapan erat  para pengurus OSIS.  Sabila tersenyum, Sahdam baru sadar kalau Sabila tersenyum padanya. Kali ini senyumnya lebih manis dan lesung pipitnya terlihat jelas. 

***

            “Bil, aku pengin nanya nih. Kok senyum semua  anak-anak OSIS bisa semanis itu, kayak yang gak ada masalah gitu kelihatannya. Apa ada caranya?” Tanya Sahdam. Kali ini dia menemukan  Sabila sedang sibuk berfoto-foto di sungai. merekapun duduk di sebuah batu besar yang ada di tengah  aliran sungai yang dangkal. Dan membenamkan kakinya dalam airnya yang dingin.

            “Itu karena OSIS udah menyatu dengan jiwa kami. Dalam waktu yang panjang, kita baru menyadari kalau kita nemuin diri kita dan kebahagiaan kita yang sesungguhnya di organisasi. Organisasi ini ikut mewarnai hidup kita dan kita tetap menemukan senyum tulus itu di dalam dan di luar organisasi.”

            “Gitu ya, mungkin aku belum ngerti sepenuhnya. Tapi mungkin nanti ada saatnya aku ngerti. aku juga lagi nyoba untuk terus tersenyum dan berusaha untuk menemukan kebahagiaanku  yang sesungguhnya.”

            “Kebahagiaan itu sebenarnya dapat kita temukan dengan cara kita sendiri, dengan melakukan hal-hal yang sangat kita cintai. Dengan melakukan hal-hal positif yang membuat kita bisa lupa segalanya jika kita melakukannya. Aku menemukan kebahagiaanku dengan foto dan menggambar. Dua hal ini membuatku lupa segalanya.”

            “Gitu ya, aku kira…salah satu aspek yang bikin kamu bahagia itu pacar gitu. Hmmm…kamu udah punya cowok?”

             Sabila terdiam dan wajahnya memerah. Lalu dia berdiri dan mengalihkan konsentrasinya pada kameranya.

            “Gak ada yang mau sama cewek aneh dan lemah kayak aku!”

            “Masa sih Bil? Hmmm…tapi aku suka sama kamu!”

            BYURRR!!!!

            Mendengar perkataan Sahdam barusan, Sabila langsung terpeleset dan terjatuh ke air sungai. Setengah badannya basah kuyup. Beruntung sungainya dangkal dan kamera  Sabila masih bisa terselamatkan.  Sabila tertawa terpingkal-pingkal atas apa yang terjadi padanya. 

            “Dodol! Kamu bikin jantungku copot aja! Emang apa yang kamu suka dariku?”

            “Aku suka sama senyum kamu, buatku kamu tuh cewek yang spesial.” Teriak Sahdam sambil mengikuti Sabila yang dengan hati-hati berdiri lalu berjalan di sungai. Dia seperti menghindar dari Sahdam.

            “Jangan so-soan nyanjung aku deh! Kalau mau bohong, bohong aja. Di anggap cewek autis aja aku gak marah kok.” Teriak Sabila masih belum berhenti berjalan.

            “Kamu kenapa sih? Emang salah ya aku ngomong kayak gitu.  aku suka kamu sebagai …sahabat Bil, aku udah nganggap kamu sahabatku.”

            Langkah Sabila terhenti. Dia membalikan badannya pada Sahdam

“terimakasih deh kamu udah nganggap aku sahabatmu, padahal sampai sekarang aku cuma nganggap kamu sebatas teman sebangku aja.”

“Tapi pas aku ngomong suka, kamu kayak ketakutan gitu?”

Sejenak, Sabila menghela nafasnya pelan dan menajatuhkan pandangannya pada seekor ikan kecil yang berenang diantara kedua kakinya.

            “Aku cuma udah letih aja untuk mengulang cerita yang sama. Cerita yang sama tentang semua cowok yang pernah hadir dalam hidupku. Tapi kerjaannya cuma ngeganggu. Mereka membuat aku terbang melayang setinggi-tingginya ke negeri impian, hingga akhirnya mereka sendiri yang menghempaskan aku jatuh ke bawah. Dan rasanya…rasanya sakit. Apalagi setelah, setelah…”

“Nggak usah kau lanjutkan Bil, aku udah tahu…maaf lagi-lagi aku nggak sopan baca fikiran kamu.” Pinta Sahdam dengan matanya yang terpejam. Kedua tangannya menyentuh keningnya.

“Aku trauma Dam. Mereka ngasih harapan kosong. Lalu pergi begitu saja. Hatiku baru sembuh Dam, hatiku baru aja sembuh. Tapi…di mataku kamu juga spesial kok.”

“Thanks, jangan jadikan hal itu sebagai penghambatmu mewujudkan mimpi-mimpimu Bil.”

             Sabila mengarahkan kameranya pada Sahdam.

            “Aku baru nyadar, ternyata cowok culun kayak kamu bagus juga di jadiin objekan!”

4. Jual Diri

Saat masjid sekolah sudah lengang dan sepi. Dengan langkah gontai Sabila berjalan dan berdiri berhadapan dengan cermin. Dan menatap lekat-lekat bayangannya yang ada di cermin itu. Sabila menunggu, dia menunggu sosok hitam itu muncul kembali. Tapi penantiannya sia-sia. Sosok hitam itu tak kunjung muncul. Sabila lalu melayangkan tinjunya ke arah cermin itu. Tapi urung dilakukannya karena tangan Sahdam sudah menahan tangan Sabila dengan kuat.

“Tidak, tidak Sabila. Kau tidak boleh menyerah begitu saja pada pada cengkraman keputusasaan. Bukankah kau sudah terbiasa tersiksa? Bukankah derai tangis sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupmu?” ucap Sahdam.

“Kamu? Kenapa sih kamu selalu datang di saat-saat yang tak terduga?” Tanya Sabila

“Hanya kaulah sang ratu yang bebas menentukan bagaimana dirimu. Kau adalah raja yang menguasai dirimu sendiri. Kau  punya otoritas penuh untuk menentukan siapa dirimu. Dan terserah kamu, apakah kamu akan menjadi batu karang. Menjadi kupu-kupu. Menjadi nyala api yang berkobar-kobar atau menjadi ranting dan dedaunan yang kering dan rapuh. Karena kamu adalah apa yang kamu fikirkan tentang dirimu.”

“Maksud kamu apa Dam?”

“Coba deh sekarang kamu jual diri!”

“Bego kamu! teman macam apa kamu, nyuruh aku jual diri?”

“Maksudku jual dirimu pada dirimu sendiri. Semacam iklan begitulah…”

“Jual diri?…hmmm jual diriku pada diriku sendiri?”

“Katakan segala hal-hal baik yang sangat ingin kau miliki dan ada pada dirimu sepuasnya. Lihat cermin itu dan berbicaralah!”

Sabila menatap kembali cermin yang ada di depannya.

“Sabila Afiah Jessica…, perkenalkan ini Sabila Afiah Jessica. Orang penting, benar-benar penting. Sabila, kamu pemikir besar, jadi berfikirlah besar. Berfikir besar mengenai segalanya.

            Kau memiliki banyak kemampuan untuk melakukan pekerjaan kelas satu, jadi lakukanlah pekerjaan kelas satu. Sabila, kamu percaya akan kebahagiaan kemajuan, keberhasilan baik itu di dunia dan di akhirat. Jadi mulai sekarang. Berbicaralah hanya tentang kebahagiaan, berbicaralah hanya tentang kemajuan, berbicaralah hanya tentang keberhasilan.

            Kamu memiliki banyak pendorong Sabila, banyak pendorong. Jadi manfaatkanlah pendorong itu. Tidak ada yang dapat menghentikan kamu, tak satupun Sabila. kecuali Allah.

            Sabila kamu antusias. Biarkan antusiasmu terlihat. Kamu tampak baik Sabila. Dan kamu merasa baik. Tetaplah begitu. Sabila Afiah Jessica, kamu orang hebat kemarin dan kamu akan menjadi lebih hebat hari ini. Sekarang maju terus, Sabila, maju terus!!!

            Kamu pintar Sabila, kamu bisa menghapal Al-Qur’an dalam waktu singkat. Karena ingatanmu kuat sangat-sangat kuat.

            Sabila, kamu adalah orang yang paling bahagia di dunia. Karena kau bisa menciptakan kebahagiaanmu dengan caramu sendiri. Hidup bahagia adalah hak-mu. Dan kamu pasti bisa meraih kembali hidayah Allah SWT. Pasti!”

            Sahdam memandang Sabila takjub.

            “Terus dan teruslah memikirkan hal ini di hatimu, di benakmu.  Selalu  ucapkan dengan  suara yang keras  setiap hari. Di depan cermin dan selalu ulangi dengan penuh tekad.  Sabila, bacalah dalam hati beberapa kali sehari. Bacalah sebelum menangani apapun yang menuntut keberanian. Harus kau ucapkan setiap kali kau tak bersemangat.  Dan jangan lupa membacakan doa hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maulaa wani’mannasir

            I think…keberhasilan di dunia dan akhirat itu datang dari pikiran yang di kelola dengan baik. Jangan terima penilaian dari orang biasa. Kamu bukan orang biasa Sabila, kamu bukan orang biasa.  Jualah dirimu pada dirimu sendiri.” 

3. Si Miskin Yang Sombong

Saat para penghuni kamar  Rabi’ah al-Adhawiyah sedang terlelap dalam tidurnya, di tengah gelapnya kamar, Sabila malah terjaga dari tidurnya. Dia menatap Tatu yang tertidur lelap di sampingnya. lalu Sabila menyingkapkan selimutnya dan merubah posisi tidurnya menjadi menelungkup. Di lihatnya cahaya bulan purnama yang menyusup melalui celah-celah jendela.

“Teh Bila…belum tidur?”

Sabila menangkap suara Tatu dan berfikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan adik angkatnya itu. Apakah Tatu mengigau atau berbicara padanya.

“Ada apa denganmu teh, kau terlihat sangat berbeda sekarang? Jadi lebih banyak ngelamun?”

            “Aku sedang mencari sesuatu.”

            “Ya, dan teteh gak tahu apa yang teteh cari selama ini.” Sambung Tatu

            “Aku mencari hidayah, namun ternyata untuk mendapatkan hidayah yang kuinginkan tak semudah yang sering ku ucapkan dalam setiap doaku. Tak semudah yang kubayangkan ketika aku pertama kali mengucapkan kalimah syahadat.”

            “yang berhak memberi kita hidayah kan hanya Allah teh, kita akan mendapatkannya kalau kita ikhtiyar untuk mencarinya.”

            “diantara santri yang lain, mungkin akulah santri yang paling tidak bermanfaat ilmunya. Bahkan jabatan sebagai murabbi masih terlalu berharga untuk orang sepertiku. Aku  Santri yang paling anti ilmu nahwu dan bahasa Arab karena menganggapnya sangat sulit. Dan malah menomorsatukan pelajaran bahasa Inggris. Lihat saja sekarang, hapalan kitab jurumiahku nggak tamat-tamat. Boro-boro naik ke alfiyah. Sebelum masuk ke pesantren ini, aku masih belum bisa membayangkan dunia yang akan kugeluti ini sebelumnya.”

            “Teteh jangan ngomong kayak gitu. Berprasangka jelek pada diri sendiri sama saja berprasangka jelek pada Allah.”

            “Aku selalu bertanya pada diriku sendiri selama ini. Santrikah aku? Sementara saat Qiyamullail menjelang aku malah tertidur pulas. Ketika adzan subuh bergema aku masih tertidur pulas. Ketika para santri yang lain khusuk melaksanakan shalat subuh berjamaah aku masih tertidur pulas. Ketika pengajian subuh berjamaah aku masih tertidur pulas. Ketika pengajian subuh, aku malah tertidur pulas. Hingga pengajian subuh bubarpun aku masih tertidur pulas. Pulas sekali aku tertidur.

Pulas sekali aku tidur!!

            Santrikah aku?? Sementara saat adzan dzuhur bergema aku sibuk dengerin musik. Hingga datang waktu ashar aku masih tertidur pulas. Yang lain baca ratiban dan sorogan aku malah sibuk mandi. Saat aku turun ke majlis, pengajian ashar sudah bubar!

            Santrikah aku? Sementara saat adzan maghrib bergema, aku masih asyik ngobrol dan telfon-telfonan, saat santri yang lain shalat maghrib berjamaah aku malah sibuk makan. Ketika pengajian malam aku malah ngobrol, ketika melogat kitab kuning, aku malah curhat-curhatan di buku. Ketika guru menerangkan aku malah tertidur. Lalu ketika di suruh baca kitab, aku kelabakan! Karena kitab kuningku tidak ada coretannya. Hu-uh! Santri bukan sih aku ini!?

            Ternyata selalu begitu dan begitu caraku menghabiskan hari-hariku di pesantren! Niatku masuk pesantren apa sih? Status santriku hanya sekedar kerudung, tumpukan kitab-kitab dan kain sarung saja. Gak lebih, gak lebih.

            Sementara akhlakku? Adabku? Masih tak ada bedanya dengan preman pasar!!

Seperti ada yang salah pada diriku saat ini. Tapi apa? Semuanya terasa kering kerontang. Sangat tandus. Tak kutemukan kesejukan itu, belum kudapatkan ketentraman itu. Apa yang aku cari sebenarnya? Apa yang aku kejar selama ini?

            Begitu kering, begitu gersang. Tak ubahnya mayat hidup yang terbujur kaku. Tak ada bedanya dengan zombie yang kehausan darah. Lalu ketika kuambil Al-Qur’an dan kubasahi bibir ini dengan membacanya. Kurasa embun sejuk dari langit seakan membasahi, meresap dan berinfiltrasi kedalam hati yang terasa mati ini…”

***

Hari ini, Sabila tidak masuk sekolah. Aktivitas organisasi dan pesantren yang padat membuatnya kecapekan ditambah lagi semalam dia kurang tidur. Kepala Sabila terasa sangat sakit dan menyengat setiap urat syaraf kepalanya. Kepalanya belum pernah terasa sesakit ini. Sabila tidur sendirian di kamar Rabi’ah Al-Adhawiyah. Lalu dia berusaha bangkit dan berdiri untuk bercermin.

Tatkala Sabila menatap sebuah cermin yang ada di hadapannya. Tiba-tiba tertangkap oleh kornea matanya sesosok hitam di dalam cermin itu. Sabila tersentak kaget dan seakan tersambar petir di buatnya. Hingga Sabila hanya bisa mematung. Mulutnya membentuk bulatan kecil melongo. Senyum sinis penuh kebencian mengembang di bibir sosok hitam itu. Raut wajahnya begitu pilu dan menyedihkan.

            “Siapa kamu!?” Tanya Sabila

            “Masa kamu tidak mengenalku, aku kan sudah akrab sekali denganmu?” sosok hitam itu malah balik bertanya.

            Alis mata Sabila terangkat heran. Sabilapun segera membuka kembali ke dalam halaman-halaman  memori otaknya.

            “Aku adalah kamu!”

            “A-aku!?” Sabila tergagap

            “Kamu yang selalu menghiasi bibirmu dengan dzikir, kemudian kamupun mengotorinya kembali dengan kebohongan, gibah, perkataan keji dan berbagai dosa lisan lainnya. Kamu yang selalu mengosongkan perutmu dengan puasa, lantas mengisinya kembali sampai penuh. Hingga akhirnya kamu tertidur pulas. Engkau yang gerakan shalatnya begitu lamban, namun secepat kilat bayang-bayang dunia melintas dalam pikiranmu sehingga kekhusyukan shalatmupun hilang. Engkau yang selalu sibuk menangisi penderitaanmu daripada menangisi penderitaan saudara-saudaramu juga dosa-dosamu. Engkau yang pandai menutupi auratmu, tapi lebih pandai lagi dalam membuka aurat oranglain dan membeberkan aibnya. Engkau yang mengaku Islam, tapi kebiasaan-kebiasaan jahiliyah masih menghiasi dirimu.

            Isi hatimu benar-benar kotor sekotor daki-daki yang melekat di tubuhmu. Hatimu benar-benar busuk sebusuk kotoran-kotoranmu. Engkau benar-benar seonggok sampah busuk terbungkus.

            Engkau sucikan dirimu dengan taubat, namun kau kotori lagi dirimu dengan dosa-dosa. Engkau yang mengaku sebagai aktivis Islam, tapi kau masih malu menunjukkan identitas keislamanmu. Bahkan seringkali kau abaikan panggilan Allah hingga rela terlambat shalat demi sebuah rapat. Berbagai buku dari berbagai disiplin ilmu telah banyak kau baca. Berbagai isu nasional dan internasional kau tahu, berbicara kau pandai, mempertahankan argumen kau ahlinya dan berdebat kau hebat, tapi mana implementasinya? Mana kenyataannya? Mana pengamalannya!?

            Kau tutupi keindahan ajaran Islam dengan kebodohanmu, dengan keburukan akhlakmu. Kau tahu sendiri bahwa Islam  artinya adalah kepasrahan, kedamaian, dan kebahagiaan. Tapi sudahkah kau memasrahkan dirimu kepada Allah, sudahkah orang-orang merasa damai, bahagia dan tentram bila berada di sampingmu dan bersimpati padamu karena keindahan Islam yang terpatri di hatimu?

            Tak jarang orang-orang di sekitarmu sering mendengar kata-kata kasar keluar dari mulutmu dan tak jarang orang-orang di sekitarmu sering melihat raut muka yang masam terlihat di wajahmu. Padahal kau tahu kalau berkata yang lemah lembut itu adalah sedekah, tersenyum itu adalah sedekah. Kau mengenal sikap rendah hati hanya di depan  orang-orang terhormat dan beruang saja.

            Bila disebut semua kesalahanmu, lisan ini pasti akan kelelahan. Bahkan beribu-ribu batang pena tidak akan cukup untuk menulis daftar dosa-dosamu. Engkau yang bercermin, shalatmu masih belum khusyuk, ibadahmu masih belum ikhlas, amal salehmu masih terlalu sedikit. Kau masih terlalu miskin dalam ilmu. Otakmu masih terlalu tumpul dalam mengargumentasikan persoalan agama.

            Engkau yang bercermin, siapa Tuhanmu? Surga, neraka, hawa nafsu atau dunia. Masihkah engkau dengan sifat takaburmu membangga-banggakan dirimu sendiri di depan orang lain. Sadar diri dong! Kau itu makhluk Allah yang hina dina. Semua yang kau miliki adalah amanat dari Allah ta’ala dan tak ada yang bisa di sombongkan dalam dirimu. Teramat hina sekali bila menyombongkan dirimu sendiri.

            Dimanakah engkau berada manakala panggilan Allah menggema? Diatas sajadah, di forum gosip dan debat, atau di atas kasur yang empuk? Ingat, camkan dan renungkanlah! Masihkah kau mengharapkan surga. Tak usahlah kau menunggu waktu yang tepat dan baik untuk bertaubat. Jangan mengulur-ulur waktu lagi. Seakan kau lebih tahu kapan Allah akan menghentikan nafasmu.

            Engkau yang bercermin, janganlah engkau binasakanku yang tiada lain adalah amalmu. Jangan kau kikis aku dengan dosa-dosamu. Kini aku sudah semakin renta-renta dan renta. Engkau yang bercermin, cerminmu adalah Rasulullah SAW. Sahabatmu adalah orang-orang soleh. Penuntunmu adalah Al-Qur’an dan hadits. Tujuanmu adalah akhirat, tempat persinggahanmu adalah dunia. Bekalmu adalah amal shaleh. Musuhmu adalah syaiton. Dan kekasihmu adalah Allah SWT.”

            Embun sejuk dari langit terasa mengguyur hati Sabila yang  gersang. Saat ini Sabila merasa sedang bermimpi, tapi ternyata tidak. Tak terasa butiran hangat mengalir dengan derasnya dari pelupuk mata Sabila. Saat Sabila mencoba untuk menghapus airmatanya, sosok hitam itupun menghilang dari pandangan Sabila. Hingga akhirnya Sabila mendengar alunan adzan maghrib yang menggema. Hatinya mulai terasa terang dan teduh. Lambat laun suara itu memberinya keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

            Peristiwa tadi seakan menggedor dinding batin Sabila. Keinginan untuk mengamalkan ajaran agama Islam secara kaffah yang tertancap kuat di hatinya benar-benar sedemikian dahsyatnya.

Aku sangat malu pada-Mu ya Allah…Ya Allah selamatkanlah diri hamba…

2. I must Keep This Hidayah

It’s Really borried. Benar-benar sangat membosankan!!! Bagaimana prestasi seorang pelajar di ukur hanya dengan mengerjakan soal-soal science, matemathic, etc. berjumlah 150 soal dalam waktu 120 menit. Aku sama sekali tidak punya ambisi untuk memenangkan kompetisi ini.
Bersama temannya Bintang, Sabila di utus sekolahnya untuk mengikuti seleksi siswa berprestasi tingkat Provinsi Jawa Barat.
Jujur dalam hati aku seneng banget di percaya sekolah untuk ikut kompetisi ini. Kesannya aku tuch jadi kayak anak jenius gitu….hehehe.
Sabila juga penasaran sekali bagaimana seleksinya. Karena menurutnya ini adalah even yang sangat bergengsi jadi berbeda dari hari biasanya…
Aku mengawali hari dengan sarapan Bubur ayam ( gak ngaruh ) ya agar otakku lebih ternutrisi, abis tiap hari sarapannya bakwan mulu sich.
Akan tetapi jiwanya seakan menghilang, ketika ternyata Sabila hanya duduk diam selama dua jam tenggelam dalam samudera soal-soal yang agak sulit.
Cuma sosial dan pengetahuan umum aja sich yang gampang abis…!!
Yang Sabila cintai sepenuh hatinya adalah berteriak lantang di podium. Menyuarakan isi pidato atau berorasi. Sampai Sabila terbatuk-batuk, sampai suaranya habis dan serak. Saat itulah Sabila menemukan jiwanya yang sesungguhnya. Jiwanya yang tersembunyi. Selain itu, yang Sabila cintai adalah menumpahkan seluruh emosi dan segudang ide di otaknya dengan menulis. Menciptakan cerita baru atau wacana baru. Lalu, membuat pensilnya menari di atas kertas untuk menciptakan sebuah gambar yang di lahirkan oleh imajinasinya yang liar.
Sabila terus membayangkan suatu saat ketika dia bersuara lantang menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah ruang pengadilan sebagai penuntut umum! Sampai akhirnya semua orang diam membisu. Sang terdakwa menunduk ketakutan. Pengacara berdiri gemetaran. Dewan hakim terpana, sehingga mereka tidak mau melewatkan satu katapun yang keluar dari mulutnya. Sabila menghayal!? Tidak. Ini mimpinya yang pasti terwujud. Kegiatan ini benar-benar menghambatnya untuk segera menamatkan bacaan novelnya “ THE TOUSANDS SPLENDID SUNS” Sabila ingin cepat-cepat keluar dari tempat yang menurutnya menjemukan itu.
Sabila lebih memilih duduk di kelasnya tercinta. Menemukan kekonyolan baru yang diciptakan oleh teman-temannya. Melayani teman-teman yang ingin membeli kue-kuenya. Membaca novel sembunyi-sembunyi saat guru menerangkan dan tenggelam dalam damainya Shalat Dluha.
***
“Perempuan dianggap sebagai pihak yang mempropokasi kekerasan. Misal, dalam kasus perkosaan perempuan dianggap yang memberi rangsangan karena pakaian yang ia kenakan. Paling standar, orang akan bertanya memang apa yang kamu lakukan sehingga kamu dipukul. Ini adalah pencitraan yang salah terhadap perempuan. Pakai jilbabpun korban masih tetap ada. Kenapa pertanyaannya bukan siapa laki-laki kurang ajar yang telah melakukannya?”
Saat Sabila masih belum puas menyampaikan argumentasinya, hampir semua orang yang hadir dalam acara diskusi seputar ‘wanita dalam pandangan Islam’ itupun langsung memberikan aplause padanya. Begitu pula dengan para aktivis dakwah sekolah lainnya yang tergabung dalam organisasi Forum Silaturahmi Rohis tingkat wilayah Jawa Barat.
Tapi Sabila tetaplah Sabila yang tidak pernah merasa puas lantas berbangga hati pada setiap keberhasilan yang diraihnya. Sabila tidak menyadari bahwa ada seorang lelaki berkacamata yang sedari tadi terus memperhatikan gerak-geriknya di belakang tempat duduknya.
***
Malam ini Sabila kembali melakukan hobi barunya. Mengendap-endap keluar asrama putri untuk pergi ke suatu tempat favoritnya di belakang pondok pesantren. Suhu yang dingin di malam itu membuat Sabila semakin merapatkan jaketnya. Sabilapun lalu duduk termenung sendirian.
“Assalamualaikum…” Ucap seorang lelaki berkacamata yang secara tiba-tiba muncul dari balik pohon beringin lalu duduk di samping Sabila
“Wa’alaikum salam…kamu siapa?” Tanya Sabila, dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Lalu Sabila berdiri dan menjauh dari lelaki itu.
“Aku? Hmmm…aku lupa jati diriku yang sebenarnya. Heh, Anak cewek jam segini belum tidur, mau qiyamullail ya?”
“Bukan urusanmu! Hmmm… Baiklah tuan amnesia, urusan dunia membuatku terjaga malam ini.”
“Marah ya, maaf kalau ganggu. Kalau aku sebaliknya, urusan akhirat yang membuatku terjaga malam ini.”
Sabila kembali tenggelam dalam lamunannya.
“Lagi ngelamun ya? Gak bisa tidur sih gak bisa tidur, tapi jangan ngelamun dong wahai wanita berjilbab.”
“Terserah gue!” sungut Sabila.
“Hahaha…kamu gadis yang kuat ya!”
“Hah, kuat katamu, emang kamu pernah adu karate sama aku!?” Sabila terperanjat.
“Kalau aku jadi kamu, aku pasti tak akan bisa bertahan dalam menghadapi semuanya. Sebenarnya sekarang kamu telah mengalami banyak permasalahan yang berat bukan?”
Sabila semakin mengerutkan keningnya.
“Tapi…kamu selalu berusaha untuk terlihat baik, terlihat mampu melakukan apapun, terlihat sempurna dan terlihat bahagia. Hasilnya, kamu selalu langganan juara umum di sekolah, berprestasi, jadi ketua OSIS dan mempunyai pergaulan yang luas. Namun jauh di dalam hatimu yang terdalam, kamu merasa tersiksa, bahkan sangat tersiksa. Kamu tersiksa oleh perasaanmu, tersiksa oleh keterpaksaanmu untuk terlihat bahagia.”
“Aku sendiri tidak pernah berpikir seperti itu, kenapa kau bisa berkata seperti itu?”
“Tapi itu yang sebenarnya kamu rasakan!”
“Sekali lagi aku bertanya sama kamu, kenapa kau bisa mengetahui hal tersensitif dalam diriku?”
“Lewat matamu, bahasa mata tidak bisa berbohong nona, tidak bisa berbohong!!”
“Lalu kenapa kamu bisa mengetahuinya hanya lewat mataku?” selidik Sabila
“Aku bisa membaca fikiran setiap orang. Kalau aku mau, aku bisa membaca lebih dalam fikiranmu. Mulai dari siapa orang yang kamu suka, orang yang kamu benci. Bahkan PR yang harus kamu kerjakan bisa saja aku tahu. Tapi…aku membatasi diri. Aku menahan diri untuk tidak menggali pikiranmu lebih dalam, gak sopan.” Lelaki itu tersenyum simpul, sementara Sabila merasa ditampar. Karena belum pernah memikirkan dan merasakan hal ini sebelumnya.
“Ada sesuatu yang hilang dalam dirimu.” Ucap lelaki berkacamata itu. lalu diambilnya beberapa kerikil kecil dan di lemparkannya ke kolam ikan.
“Sesuatu yang hilang, apa itu?”
“Sesuatu yang hilang yang hanya kamu sendiri yang bisa menemukannya. Apabila kamu menemukan sesuatu yang hilang itu, kamu akan merasakan kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan kebahagiaan semu. Bukan fatamorgana semata.”
Fikiran Sabila terhanyut dalam derasnya arus pertanyaan yang bertubi-tubi menghantam otaknya. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sangat sulit.
Dihadapan Sabila, lelaki itu masih duduk dengan tenang dan senyumnya masih mengembang.
“Kamu suka curhat sama siapa?”
“Aku… belum pernah curhat sama siapapun. Karena…aku merasa bahwa semua orang mempunyai permasalahannya masing-masing. Aku tidak mau menambah beban mereka.”
“Ya, termasuk pada orang tuamu sendiri, Kamu juga selalu menggunakan dengan rapi topeng kebahagiaan kamu yang palsu itu dihadapan mereka. Kamu hanya mencurahkan isi hatimu pada diary saja. Kamu lebih senang menanggung semuanya sendiri. Kamu lebih suka menyiksa dirimu sendiri.”
“Kau salah terka bung…sekarang ini aku.”
“Sudah tidak bersama orangtuamu lagi. Kau di usir oleh mereka, bukankah begitu nona berjilbab?” potong lelaki berkacamata itu.
Sabila mematung kaku. Mulutnya membentuk bulatan kecil melongo.
“Indah deh kayaknya kalau kita selalu mengadukan semua permasalahan kita dalam setiap doa yang selalu kita panjatkan setiap habis shalat, sangat, sangat indah. Ketika kita meminta langsung kepada satu-satunya tempat bermuaranya segala pertolongan yaitu Allah SWT.” Ucap lelaki itu sambil berlalu meninggalkan Sabila yang masih tenggelam dalam diam untuk merenungi semua perkataannya. Untuk mentafakuri lembaran demi lembaran segala bentuk amal yang telah Sabila perbuat. Meski pena pencatat amal sudah mengering dan tak dapat dirubah. Hati Sabila sudah tidak mempertanyakan lagi siapa sebenarnya lelaki aneh yang datang lalu pergi begitu saja itu.
Hingga akhirnya dada Sabila bergolak, hatinya panas mendidih dan bibirnya tak berhenti mengutuk. Tapi Sabila tidak tahu kepada siapa kutukannya di tujukan. Sabila berubah marah, tapi Sabila tidak tahu kepada siapa dia harus marah. Sabila marah, Sabila sangat marah.
Hingga akhirnya Sabila sadar, bahwa dia marah karena kedua orangtuanya membencinya. Sabila marah karena tidak mendapatkan sempurnanya cinta mereka. Sabila marah karena keislamannya di kecam oleh mereka. Sabila marah karena Bram merenggut kehormatannya. Sabila marah karena harus berpisah dengan orang-orang yang sangat Sabila sayangi dan berarti dalam hidupnya. Sulthan bayi kecilnya, kedua orangtuanya, Debora dan Ghisa. Semuanya, semuanya itulah yang telah membuat Sabila marah.
Tanpa disadari, selama ini Sabila telah menghujamkan pedang problematika yang tajam, yang menusuk ulu hatinya. Tapi Sabila tetap berjalan tertatih-tatih dengan membawa sejuta luka menganga yang membusuk dengan rasa sakit yang teramat sangat menyiksa. Lalu Sabila membungkus luka itu dengan berjuta kepura-puraan dan topeng. Membungkus luka menganga itu dengan kepalsuan. Membungkus luka menganga itu dengan kebahagiaan semu. Menutupi luka menganga itu dengan tawa yang hampa.
Tapi kedua bola mata Sabila terlalu jujur untuk membeberkan semua dan tak berhenti berteriak tentang hakikat ada. Dimata semua orang Sabila adalah batu karang yang berdiri tegar melawan hantaman badai. Dimata mereka Sabila adalah seekor kupu-kupu indah yang bebas mengepakan sayap indahnya. Lalu terbang kemanapun dia mau. Dimata mereka Sabila ini adalah kobaran api yang panasnya menjalar kemana-mana. Tapi mata Sabila menjerit keras, melolong memecahkan kebisuan.
Semua itu bukan aku! Bukan aku! Aku hanya ranting kering yang rapuh. Yang mudah patah bila dipatahkan. Aku hanya dedaunan kering yang bertebaran. Yang mudah terhempas oleh sapuan angin. Yang hanya bisa terbang mengikuti berlarinya arah angin.
Sabila beringsut-ingsut sekarang. Beringsut-ingsut untuk mencari sesuatu yang hilang. Sambil mengais-ais harapan dan sisa – sisa mimpinya. Memulung cinta yang sebenarnya bukan cinta.
Sekarang Sabila tahu apa sebenarnya yang hilang dari dirinya selama ini. Itu adalah hidayah. Dengan mudahnya Sabila mendapatkan hidayah ketika orang-orang di sekitarnya jauh dari nila-nilai Islam. Akan tetapi di saat orang-orang di sekitarnya mulai merasakan manisnya hidayah, hidayah itu malah semakin terkikis lalu kembali sirna darinya…
Sabila bertanya-tanya bagaimana caranya agar dia bisa menemukan kembali hidayah itu, hidayah yang ternyata tidak bisa di temukan di semua organisasi Islam yang telah dia ikuti, yang tidak bisa Sabila temukan di pesantren, yang tidak bisa Sabila temukan di ROHIS dan yang tidak bisa Sabila temukan dimanapun sampai sekarang?
Sabila sangat ingin kembali menggapai hidayah Allah tanpa harus memposisikan diri dalam sekat-sekat keislaman apapun, yang selalu di gembar-gemborkan oleh para gerombolan orang yang fanatik itu. Juga para cendekiawan itu. Seperti Islam tradisional, modern, Fundamentalis, moderat dll.
Sabila sudah lelah untuk tenggelam dalam pencarian tak berujung. Hatinya letih untuk mencari kebenaran hingga membuatnya terguncang dan imannyapun semakin sekarat hingga untuk menemukan kebenaran yang terasa samar itu, banyak sekali ibadah yang terabaikan.
Sabila sendiri sudah tidak peduli dengan cap bahwa dirinya taklid ataupun ahli bid’ah. Baginya Islam adalah Islam itu sendiri, yang mengajarkan umatnya untuk berserah diri dengan ke universalan ajarannya. Islam adalah kepasrahan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. Tapi meskipun Sabila seorang mu’allaf, sebagai pemeluk agama Islam, dia belum menemukan semuanya itu dalam keislamannya.
Sabila pernah mendengar ceramah seorang ulama, yang menyatakan bahwa Islam adalah keselamatan. Islam adalah sumber kebahagiaan, kasih sayang Islam akan menaungi seluruh umat manusia. Kenalilah Islam, cintailah…lalu amalkan dengan sepenuh hati …niscaya kita akan merasakan ketenangan dan keindahannya…
Tapi…Sabila merasa kalau dirinya belumlah selamat. Belumlah bahagia, Sabila belum merasakan kasih sayang Islam, Sabila belum mengenal Islam… .Sabila belum mencintai agamanya, lalu mengamalkan ajaran Islam dengan sepenuh hati …otomatis Sabila belum merasakan ketenangan dan keindahan Islam…
Bahkan berbagai prestasi yang telah diraihnya. Banyaknya materi yang Sabila miliki, jabatan yang dia duduki, organisasi yang di ikutinya. Tidak bisa menjadi penawar kegersangan hatinya.
Sabila kehilangan hati yang bergemuruh ketika adzan bergema, kehilangan derasnya airmata yang menetes di atas sajadah ketika dirinya shalat. Kehilangan senyum ikhlas yang bersumber dari hati. Sabila kehilangan girah untuk berdakwah. Kehilangan prinsip sampai akhirnya Sabila prustasi hanya karena memikirkan derita masa lalunya. Sabila kehilangan para sahabat yang dapat mendekatkan jaraknya dengan Allah…
Ketika suri tauladan sudah sulit ditemukan, ketika orang-orang fasik sudah banyak dijadikan teman, ketika amalan sunah sudah banyak di tinggalkan, ketika kegersangan hati melanda jiwa. Apa yang harus kulakukan ??
Kadang Sabila mesti melesat berlari, kadang Sabila berjalan langkah demi langkah, kadang Sabila berjalan tertatih-tatih, kadang beringsut-ingsut, kadang Sabila merangkak dalam usaha meraih hidayah-Nya.
“Ya Allah…Please keep this Hidayah, jagalah hidayah ini. Jagalah karunia yang tak ternilai ini. Tolong hamba ya Allah…tolong hamba. Ya Rab…tak ada satupun yang hamba dambakan di dunia ini selain hidayah-Mu…Hanya hidayah-Mu, only Your hidayah. Hamba ingin terus berada dalam dekapan erat cinta dan hidayah-Mu.
Dimanakah kan kau tempatkan hamba-Mu ini? Dalam kenikmatan tak terlukiskan surga-Mu, atau dalam kepedihan tak tertahankan adzab neraka-Mu? Dimana? Dimana Ya Rab…?
Harus kujaga! Harus kujaga! I must keep Your Hidayah dan tidak boleh kulepas lagi. Aku takut mengulangi semua kesalahanku lagi…Aku takut mengulanginya lagi…I’m afraid to repeat Your forbiddens again, I’m so afraid…”
***

“Nona berjilbab, aku duduk sama kamu ya, boleh?”
Sabila menutup buku bacaannya, sekilas dia menatap sosok lelaki jangkung yang sudah berdiri disampingnya. Kemudian dengan sikap yang datar, ekspresi wajah yang datar, berhiaskan sedikit senyum yang datar.
“Silahkan…” ucap Sabila sambil menggeserkan jauh-jauh kursi tempatnya duduk dari kursi kosong di sebelahnya yang akan di tempati murid baru itu.
Dari awal lelaki itu masuk ke kelas Sabila sampai dia duduk di sampingnya, Sabila sama sekali tidak berminat untuk memperhatikan lelaki itu saking seriusnya dia membaca buku terbarunya. Hingga akhirnya secara tidak sengaja mereka berdua beradu pandang.
“Hei, kamu…kamu kan, cowok yang nemenin aku tadi malam!?”
“Heh, jangan kege-eran dulu. Siapa yang mau nemenin kamu. Semalam itu aku lagi iseng ngelakuin ekspedisi alam gaib. Saat aku lihat sosok kamu di bawah pohon beringin itu, aku kira kamu itu penampakan kuntilanak.”
“Kamu nyamain aku sama kuntilanak!?” ucap Sabila garang.
“Ya begitulah…kalau bukan setan beneran, kamu bisa juga jadi alat pancing setan yang ngegoda para kaum adam.”
“Ok, kalau kamu takut aku goda pergi sana! jangan sebangku denganku!”
“Hmmm…kalau untuk pindah bangku, kayaknya aku harus fikir-fikir dulu deh. Soalnya aku pengin sharing sama kamu. banyak banget hal-hal yang pengin aku diskusikan sama kamu. ”
“Kalau mau diskusi and nanyain banyak hal tentang agama pergi aja ke ustad sana!”
“Jangan marah gitu dong nona berjilbab lebar…”
“Heh, aku pengin kamu mengenaliku sebagai Sabila Afiah Jessica, bukan wanita berjilbab lebar. Emang derajat keimanan seorang muslimah dilihat dari seberapa lebar dia berjilbab, pakai gamis dan pakai cadar apa?”
“Bukannya kamu sering pakai jilbab lebar?”
“Jilbab lebarku sudah kutanggalkan dan hanya jadi penghias lemari, aku ganti dengan jilbab yang biasa aja. Aku belum ikhlas pakenya. And ribet, jilbabku belum bisa melindungi dzohir dan bathinku. Kaget ya, tapi inilah Sabila.” Ucap Sabila bangga.
“Ya memang bukan jilbab sih yang melindungi. Jilbab hanya sehelai kain yang menutupi aurat wanita. Jilbab sudah tak ada gunanya lagi jika sudah melecehkan citra jilbab itu sendiri. Gimana, udah nemu hidayahnya?”
“Maksud kamu?”
“Itu kan yang sebenarnya hilang dalam dirimu, apa cukup hanya menunggu hidayah datang. By the way cara nemuin hidayah itu gimana sih?”
“Selamat, kamu udah nanya hal itu pada orang yang lagi kehilangan hidayah!” Sabila tersenyum sinis.
“Gak ada yang di kasih hadiah kok! Pake ngucapin selamat segala. Aneh, gimana kamu tahu kalau kamu lagi kehilangan hidayah? Malaikat jibril yang ngasih kabar atau ada sumber lain?”
“Sumbernya…aku udah ngerasa kalau kenikmatan ibadahku sekarang hilang. Aku juga udah mengalahkan cinta Allah dengan cinta yang lain.”
TETT…TEEEETTT!!!
Suara bel tanda istirahat pertama sudah berbunyi. Sabila segera menutup bukunya dan keluar kelas. Dia melangkahkan kakinya menuju Masjid.
“Ok Sahdam. Aku mau shalat dhuha dulu.”
“Wah, belum kenalan kamu udah tahu namaku? kamu bisa baca fikiran juga?” lelaki itu terkesima.
“Aku lihat di seragam kamu dodol!” sungut Sabila.
***
Saat Sabila melakukan uluk salam, gadis itu menggerak-gerakan jemarinya untuk berdzikir. Lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Setelah selesai berdoa.
“Hai nona berjilbab biasa aja…lagi sibuk ya sama urusan akhirat?”
Sabila mengacuhkan Sahdam. Selesai berdoa, Sabila melipat mukena, dan langsung melangkahkan kakinya keluar Masjid sekolah. Dia lalu duduk sebentar di tangga masjid sambil mengikat tali sepatunya.
“Tadi malam aku bermimpi, dalam mimpi itu aku tertidur selama empat tahun gak bangun-bangun. Ketika aku bangun, aku ngerasa tidur selama dua jam. Mimpi yang aneh, kamu ngerti gak dengan alur mimpiku?” Tanya Sahdam yang tiba-tiba duduk di samping Sabila.
“Heh jangan deket-deket!”
“Ok, Ok…jaga jarak-jaga jarak…”
“ Gak tahu ah. Aku sendiri gak pernah menafsirkan mimpi-mimpiku. Gak ada kerjaan dan gak penting buatku. Thanks.” Ucap Sabila dengan wajah dinginnya.
“Dengerin aku dulu, seseorang menafsirkan kalau ibadahku selama ini gak diterima. Dan aku gak diberi kesempatan untuk beribadah lagi. Jadi mimpiku itu udah ditafsirkan oleh seorang peramal.”
“Hahaha…percaya kamu sama peramal? Buat aku, Cuma Allah yang tahu ibadahnya kita diterima atau nggak. Aku gak percaya peramal cuy! And you musti percaya sama Qodo dan Qodar Allah. sekali lagi aku bilang menafsirkan mimpi itu gak penting!”
“Kenapa kamu bilang nggak penting. Apa kamu nggak sadar siapa yang menciptakan mimpi. Sekarang kamu sudah mengingkari ciptaan Allah, jadi beristighfarlah…”
Sabila menatap Sahdam sinis. Lelaki berkacamata itu benar-benar telah membuat Sabila geram.
“Ok ok tuan amnesia, aku sadar itu masih diluar pengetahuanku. Puas!”
“Sebenarnya aku nggak bilang harus percaya atau nggak. aku hanya mempresentasikan mimpi yang aku alami tadi malam. Bukankah Allah menciptakan bumi dengan seisinya, pepohonan dengan buah dan daunnya, jasmani dengan rohaninya kenapa kamu baru nyadar barusan? Kamu tahu sendiri segala yang ada di alam semesta cipta’annya termasuk mimpi kita.”
Sabila menanggapi Sahdam datar-datar saja. Itulah kesan pertama Sabila dengan Sahdam. Sangat datar. Bahkan disebut berkesan saja tidak sama sekali. Sabila tidak habis fikir, bagaimana bisa dia sebangku dengan cowok? Seorang cowok? Makhluk Tuhan yang membingungkan, menyebalkan, sering nyakitin hati dan…malas sekali Sabila membahas mereka!
***
Dari hari pertama Sahdam minta diri untuk sebangku dengan Sabila sampai ujian tengah semester ini, Sabila mengenal Sahdam tak lebih dari seorang teman sebangku yang suka datang kesiangan dan hobi tidur di kelas. Tapi Sabila mengakui kalau Sahdam memang pintar dalam pelajaran Matematika dan tidak pernah pelit untuk membagi ilmunya kepada Sabila dan kepada siapa saja. Sekarang nilai ulangan matematika Sabila sudah tidak pas-pasan lagi. Sebaliknya Sabila selalu membantu Sahdam untuk memahami pelajaran bahasa Inggris. Meskipun ternyata nilai bahasa Inggris Sahdam masih belum memperlihatkan perkembangan yang baik.
Dipikir-pikir apa aku yang nggak bener ngajarinnya atau otak Sahdam saja yang selalu memantulkan kembali setiap pelajaran.
Tapi…akhirnya mereka selalu menolong satu sama lain.
“Nyi Blorong!” goda Sahdam.
UGH! Masa gara-gara aku suka sama warna hijau dia manggil aku nyi Blorong???
“Nyali tempe….”
Itu lagi, masa gara-gara dia tahu aku takut sama setan, ulat, darah atau hal-hal yang berbau kekerasan, boneka panda dan ketinggian, Sahdam manggil aku nyali tempe?
“ Sabila Afiah Jessica.”
“Apa sih dari tadi ngabsen terus?” ketus Sabila.
“Aku pengin nanya, kemarinkan kamu bilang kalau kita ingin memperbaiki diri kita, maka kita harus meminta bantuan orang lain untuk menilai dan mengkritik diri kita. Nah sebagai seorang teman yang baik, menurut kamu aku gimana?”
“Gimana ya…” Sabila menundukan kepalanya sejenak. Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan Sahdam yang satu ini. Sambil berpikir, Sabila tidak berhenti mengetuk-ngetukan pulpennya pada kupingnya sementara Sahdam masih serius mengawasinya.
“Ini fakta ya. Dan aku ngasih pendapatku yang jelek-jeleknya saja. Kamu itu orangnya pikun. Soalnya suka lupa bawa buku pelajaran dan bawa PR. Terus kamu itu terlalu santai makanya kesiangan terus. Kemudian kamu rada males!”
“Itu aja?”
“Kalau aku?”
“Kamu Bil, hmmm…selain suka tidur di kelas aku rasa gak ada lagi. Tapi sekarang kebiasaan kamu itu udah hilang. Kamu so perfect lah di mataku. Pinter, rajin ibadah dan…”
“Stop, stop, stop don’t think about it!”
Sebenarnya bukan itu yang ingin Sabila katakan. Setiap hari dia tidak pernah melihat Sahdam absen shalat Dluha di masjid. Sahdam tidak agresif sama cewek dan tidak genit. Makanya Sabila selalu merasa nyaman jika berada dekat dengan Sahdam. Sahdam perhatian dan penyayang pada siapa saja. Sahdam selalu menghormati Sabila sebagai seorang muslimah.
Senyummu manis dan apa lagi ya…sangat eh sedikit good looking lah.
***
Di atas rumput, Sabila dan Ina tampak sibuk mempersiapkan kertas karton yang akan di gunakan dalam aksi unjuk rasa terkait tuntutan pengesahan RUU Pornografi dan pornoaksi..
“Ntar kita nulis apa Bil?”
Mereka berdua duduk berhadap-hadapan dan saling pandang. Tempat mereka duduk tidak terlalu jauh dari gedung Sate.
“Tulis saja selamatkan generasi muda dari pornografi dan pornoaksi.” Ujar Sabila.
“Tanda serunya tambah lagi dong!” lanjutnya
“Iya-iya…” dengus Ina
“Assalamualaikum…para ukhti.”
Sabila dan Ina mendongakan kepalanya kearah sumber suara. Dilihatnya seorang lelaki tampan berperawakan tinggi berdiri di dekat keduanya. Ternyata itu adalah Sahdam, dia juga ikut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut. Lengkap dengan jas almamater dan pengeras suara yang menggantung di pundaknya.
You look so handsome now…ARRRRGGGHHHH!!! Mikir apa sih kamu Sabila??? Capek tahu mikirin cowok tuh capek…!!!! Mending mikirin kasus bank Century, Film terbaru Brad Pitt and kapan TIMNAS Indonesia bisa menangin piala dunia.
“Kamu ikutan orasi juga Dam?” ucap Sabila dengan keramahan yang sedikit di paksakan.
“Heh…kalau mau nyapa aku yang ikhlas dong!” sungut Sahdam.
“Ugh! Capek gue ngomong sama Lo! Suka ketebak duluan jalan fikiran gue gimana.”
“Ya…gimana lagi ini kan udah jadi anugerah dari Allah.”
Sabila menarik lengan Ina dan meninggalkan Sahdam berdiri di tempatnya.
Sabila menjadi peserta unjuk rasa yang lebih bersemangat dari pada para siswa yang bergabung dengan aliansi mahasiswa lainnya. Dalam sengatan panas matahari yang membakar kulit putih Sabila. Tak henti-hentinya aktivis sekolah itu menyuarakan suara rakyat dalam orasinya, hingga pita suaranya nyaris putus. Di dekatnya, karena merasa khawatir pada kondisi Sabila yang sepertinya sudah lemas, Sahdam memberi tanda pada Sabila untuk menggantikannya berorasi. Tapi Sabila mengacuhkannya.
***
“Hal apa yang paling kamu pilih, dunia atau akhirat?” Tanya Sahdam pada Sabila yang saat itu sedang sibuk membaca buku di depan kelas. Menyadari kedatangan temannya yang aneh itu, Sabila langsung menutup buku baca’annya.
Sabila memperhatikan Sahdam dengan seksama. Bila sedang berbicara dengan Sabila tatapan mata Sahdam selalu berbinar-binar dan tidak pernah lepas menatap langsung mata lawan bicaranya. Bila tiba giliran Sabila bicara, Sahdam selalu mendengarkan Sabila dengan antusias dan penuh minat yang besar. Seakan-akan setiap kata yang Sabila ucapkan sangat berharga baginya dan tidak ingin dia lewatkan.
“Dodol, akhirat dong!” sungut Sabila lalu dia kembali membaca bukunya.
Tapi Sabila adalah kebalikan dari Sahdam. Sebenarnya sikapnya ini berlaku untuk semua cowok dan bukan Sahdam saja. Apalagi setelah kekecewaan demi kekecewaan yang pernah Sabila alami dengan setiap makhluk bernama laki-laki dan pemerkosaan itu telah membuat Sabila trauma sehingga dia selalu menaruh curiga pada setiap lelaki yang mendekatinya.
“Sudah aku kira. Selamat anda terjebak dalam kemacetan yang berkepanjangan. Dan di butuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya.”
“Aku juga udah tahu kalau meraih kebahagiaan akhirat itu gak instan!!!”
“Lantas kenapa kamu instant memilih akhirat? Yang belum tentu menjanjikan?”
Sabila selalu menanggapi Sahdam dingin, mendengarkannya tanpa rasa antusias dan satu lagi, Sabila paling enggan menatap langsung pada mata lawan bicaranya.
“Keinginanku cuma satu, ini jerit hatiku selama ini, aku sangat ingin menuntaskan kerinduanku yang sangat menyiksa. kerinduanku kepada Allah dan Rasul-Nya…silahkan kamu tertawa, tapi di sini aku sedang menangis.” Ucap Sabila sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Aku hanya bisa bersedih dalam keadaan kamu yang seperti ini. Tapi apakah cukup dengan rindu untuk mencari keridloannya.”
“Tidak.”
“Cukup dengan menangis jadi gimana?”
“Aku gak bisa jawab dan tak ada jawaban teoritis yang bisa aku berikan tentang hal itu confused…”
“Ya udah…aku gak maksa.” Ucap Sahdam.
“Hmmm orang yang wawasan agamanya tinggi kayak kamu, buat apa nanya-nanya sama orang fakir ilmu kayak aku.” Sindir Sabila
“Aku juga sama seperti kamu. Mau di bilang tinggi apanya coba. Bukannya kamu yang lebih tinggi, yang aku tahu, kamu lebih banyak menyabet banyak penghargaan, terutama yang ada hubungannya dengan jihad. Two tumbs for you deh, aku kagum sama kamu. Semangat dakwah kamu tinggi banget, kalau lagi orasi saat unjuk rasa soal RUU Pornografi dan fornoaksi kemarin aja, kamu bikin aku merinding. Kamu enak diajak mendiskusikan apa saja, kalau berdebat lawanmu gentar terus. Terus udah berapa organisasi Islam coba yang kamu ikutin. Padahal kamu kan seorang muallaf.”
“Akhirnya kamu tahu juga aku ini muallaf.”
“aku udah tahu, karena kamu pasti mau ngomong aduh Sahdam, biasa aja deh. Asal kamu tahu ya gini-gini, Sabila itu seorang muallaf…” ucap Sahdam lemah lembut.
“Tapi semua penghargaan itu gak ada artinya, dan bukan kemulyaan yang hakiki, sementara aku belum memiliki ketenangan bathin…”
“Kamu jauh banget sih udah mikir ke sana, aku aja gak ngerti kemulyaan yang hakiki dan ketenangan bathin itu gimana? Lebih baik dasarnya aja dulu yang harus kamu pelajari.”
“Thanks a lot”
“Kamu tahu yang aku maksud dasarnya gimana?”
“What is it?”
“Kalau kamu tadi milih akhirat. Kalau aku sebaliknya duniawi dengan ilmu. Aku masih penasaran, kemulyaan hakiki dan ketenangan batin itu gimana? Nona berjilbab biasa aja, anda belum menjawab rasa penasaran saya?”
“Hmmm wuaaaaaa….” Sabila menguap dan menepuk-nepuk mulutnya yang terbuka lebar. Lalu mendaratkan kepalanya di atas meja sambil mendengarkan Sahdam tanpa minat.
“Apakah kamu masih butuh hidayah Allah untuk mewujudkan ketenangan bathin dan kemulyaan hakiki? Entah sudah berapa banyak judul buku yang kamu baca untuk mewujudkan hal itu.”
“Udah gak ke itung cuy dan sekarang cuma selogan doang. Buku La Tahzan aja udah 3 kali tamat! “
“Sayang banget ya kamu hanya berguru dengan beberapa lembar kertas. Padahal ilmu Allah unlimited loh? Apa yang kau dapat? Tak dapat apa-apa?”
“Syukur deh kamu tahu, heh, jangan nge justice aku gak dapat apa-apa ya! I take science from everything and everyone, such as you ok.”
“Ordinary aja lah! Kamu pernah baca majalah hidayah gak yang judul kisahnya berguru hanya dengan buku. Kamu tahu gak apa yang terjadi? Memang buku jendela dunia, but gak semua buku itu jendela dunia.”
“Not yet, but thanks for your advice.”
“Orang itu stress karena kebanyakan baca buku, dan dia malah bakar semua koleksinya. Itulah orang yang belajar tanpa ahlinya…”
“Hehehe tragis, tapi aku gak setragis itu kok, always balance…malah lebih banyak baca komik and novel.” Ucap Sabila dengan ciri khasnya yang cuek dan santai.
“Generasi muda Islam kok bacaannya komik sama novel…?” sindir Sahdam. Sementara di sampingnya Sabila hanya bisa manyun seperti siput.
***
“Sabila, sekarang giliran kamu!” Ucap pak Imron pada Sabila.
Tapi Sabila malah celingak- celinguk melihat semua santri yang ada di sekelilingnya. Pagi ini adalah pengajian tafsir Al-Qur’an yang di pimpin pak Imron yang tiada lain adalah pengasuh pondok pesantren Nurul Falah. Dalam pengajian tafsir Al-Qur’an ini, setiap santri diwajibkan menyetorkan hapalan Al-Qur’an secara bergiliran. Sayangnya Sabila samasekali belum menambah hapalannya hari ini. Waktunya habis hanya untuk memikirkan hidayah yang tak kunjung dia dapatkan.
“Teh Bila cepetan…santri lain udah pada ngantri setor hapalan tuh.” bisik Tatu.
Tapi Sabila tidak berkutik. Dia terus menundukan kepalanya dalam-dalam. Tak berani melihat wajah sang guru.
“Sabila, kamu pengin sehat?” Tanya pak Imron.
“I-iya pak …” Sabila gelagapan
“Berdiri di tempatmu, ambil sikap sempurna lalu banding sampai pengajian ini selesai!”
***
Sabila masuk ke dalam kelas dengan lesu akibat Subuh-subuh sudah disuruh olahraga oleh Pak Imron. Lain dari biasanya, Sabila melihat tas ransel Sahdam sudah ada di kursinya. Lalu Sabila duduk termenung melihat tas Sahdam. Lelaki itu sudah membuat Sabila banyak merenung baru-baru ini. Kata-katanya asal tapi dalam. Sabila telah belajar banyak hal dari Sahdam. Tiba-tiba…
“Oh ya hidayah yang kamu cari udah dapet belum? Kalau kamu mau aku mau bantu cari’in buat kamu.”
“Mau jadi spiderman kamu? Ngebantuin aku nyari hidayah? Lo pikir hidayah itu gorengan dan kacang rebus apa? atau mau mengaruhin aku ajaran sesat ya hehehe, alergi banget aku gabung sama kelompok yang ngebeda-bedain Islam. Becanda lu!?” ujar Sabila sewot.
“Emang siapa yang bilang gitu? kamu aja yang su’uzhan! Ada sebab lain nggak kenapa kamu fanatik banget pilih akhirat?”
“Aku benci di sebut fanatik dan gak ada alasan lain …”
“Akhirat belum tentu menjanjikan bukan. Sampai sekarang kamu masih nyari-nyari hidayah?”
“Lo ini titisan Mustafal kemal At-Taturk si pembaharu dari Turki yang sekularis itu. Atau reinkarnasi Stalin dan Karl Marx sih!?”
“Aku gak kenal semua orang itu, kini tahun 2010, tokoh-tokoh kamu yang kamu bilang tadi tokoh jadul kan. Aku lebih pilih dunia dengan ilmu mengapa. Karena kita masih hidup di dunia. Kalau kamu pilih akhirat ya tunggu apalagi?”
“Akh! Terserah lo deh!”
“Padahal kamu cerdas lho? Tiap tahun dapat general champion. Tapi kenapa gak coba tanggapin?”
“Aku cuma malas ngelakuin kebiasan berdebatku, ngerti!” Sabila menggebrak meja dan menatap Sahdam penuh emosi.
“Hmmm….di manakah gadis berjilbab biasa aja berada? Apakah dia sudah menemukan hidayah dari Allah, atau masih sibuk mencarinya. Hanya dia dan Allah yang tahu… “ Ucap Sahdam sambil berlalu meninggalkan Sabila yang duduk di bangkunya.
“tenggelam aja lo kelaut sana, gangguin orang aja lo kerjaannya!!” sungut Sabila.