sampai juga aku di sebuah persimpangan. persimpangan yang akan menentukan arah hidupku kedepan. apakah melangkahkan diri kemana dan dimana. berada diantara cinta dan cita-cita. diantara idealisme dan perasaan. diantara harga diri dan romantisme hidup. semua itu bisakah berjalan beriringan. semuanya itu, bisakah melangkah bersama?
aku takut jiwaku kembali rusak. berkali-kali jatuh tersungkur dalam kisah yang sama. meskipun aku dibuat jatuh. tapi aku masih bisa merangkak dan bangun lagi.
aku tahu, yang merusak jiwaku adalah diriku sendiri. terlalu membentangkan harapan, terlalu tunduk dalam perasaan, terlalu hanyut dalam mimpi, terbuai dengan kata-kata manis. melupakan cita-cita, mengabaikan harga diri dan melumpuhkan idealisme hidup. rasa sakit itu adalah aku sendiri yang menciptakan. aku.
simpan dan berikan hanya kepada orang yang lebih berhak. titik. camkan itu!!
tak ada rasa sakit dan isak tangis yang baru. tak ada tangis dan senyum dalam waktu yang bersamaan.
Kampus STAI Al-Muhajirin, 13.30 WIB
Jumat, 18 November 2011
INILAH AKU, LALU KAMU SIAPA?
aku sudah sering membicarakan, mengeluhkan, mengadukan, mengobrolkan hal ini pada sang Pencipta diriku. Allah Swt. tidak ada penghalang antara aku dengan-Nya. aku ingin terhubung dengan-Nya. langsung tanpa ada perantara. Wasilah dan yang lainnya.
sebenarnya diriku ini siapa? tak ubahnya mayat tak beridentitas. terasa mati. tak ada ruh yang mengisi relung jiwa. hampa, linglung, bingung. diriku ini siapa? aku sama sekali tidak mengenal dirku. aku harus mengenal siapa aku.
terlalu banyak aktivitas-aktivitas yang memicu pembusukan karakter dalam diriku. waktuku di isi dengan hal yang sia-sia. menjalani hidup dengan terhanyut begitu saja, mengalir begitu saja, terbawa arus. tak ada tujuan pasti . Seakan Tuhan sia-sia menciptakanku, menghidupkan, mengalirkan darah disetiap urat nadiku, sia-sia memberiku hembusan nafas. dan akulah yang membuat hidupku sia-sia begini. tak ada makna, tak ada arti. dan arus kehidupanku ini terus menghanyutkanku kehilir misteri yang tak berujung. kearah yang tak aku tahu. entah akan terhanyut kemana. entah akan dibawa kemana. tanpa bisa berenang bagaimana aku mampu menepi?
semua mengalir tenang. tapi sangat dalam, menengggelamkan. terlalu banyak pinta dan harap yang tertuju selain kepada-Nya.
harus!!
aku bisa menentukan sendiri siapa aku. tak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa membuatku merasa kecil tanpa seijinku.
sekarang aku bisa menentukan dengan bebas siapa aku. inilah identitasku. inilah aku.
aku adalah gadis biasa yang mempunyai pengalaman luar biasa dalam mencari kebahagiaan. aku adalah apa yang aku pikirkan tentang diriku. aku adalah wanita bebas yang telah mengetahui apa potensi dan kejeniusanku yang sesungguhnya. aku adalah jiwa yang tercecer dalam ilmu, pendakian gunung, penjelajahan, perjalanan ke segala sudut terindah Indonesia dan samudera imajinasi yang tertuang di kertas-kertas.
aku adalah hamba Allah yang sangat bahagia karena telah menemukan banyak cara untuk menciptakan kebahagiaanku sendiri.
inilah aku. lalu, kamu sendiri siapa?
Kamar: 22, 22.50 WIB
Selasa, 15 November 2011
Sang Umi
senyum itu...senyum indah tanpa kepalsuan itu terus tersungging dibibirnya. dia duduk memangku anaknya yang masih kecil. aku hanya bisa ikut merasakan kesedihan yang disembunyikannya dalam tetes air matanya. kuhela nafas panjang. tak harus jauh aku belajar tawakal, sabar, ikhlas dan syukur. sementara disini, wanita yang berada didekatku adalah guru dari semua itu. tak perlu mengawang terbang ke surga untuk bertemu bidadari. sementara disini, dalam rumah sederhana berjihadlah seorang ibu. mengepaklah sayap cinta seorang bidadari, menebar kasih sayang kepada anak-anaknya. juga kepada mendiang suaminya.
Umi..
begitu sederhananya wanita itu. tak terpasung banyak ambisi sepertiku. tak banyak yang umi inginkan. yang terpenting dia bisa merawat dan membesarkan kelima anak-anaknya dengan baik. dan gurat-gurat kesedihan, rasa letih dan ketuaan itu...ketegaran umi meruntuhkan keangkuhanku. meluruhkan kerasnya hatiku.
ujian cinta yang kualami, masih tak sebanding dari pada beratnya masa-masa panjang ditinggal pergi suami tercinta. dengan tanggungan lima anak yang masih membutuhkan ayoman dan nafkah sang ayah.
dia...sang umi.
walau terasa singkat aku bertemu. tapi cahaya ketegaran, cinta dan kasih sayang terus terpancar dari kedua bolamatanya.
Umi..walau kau hanya hidup dalam angan dan ingatanku. sosokmu bisa membuatku lebih tegar dan bersyukur kalau aku lebih beruntung. kau ingatkan aku kalau jalan didepanku masih panjang. sekarang saatnya berjuang. nanti ada waktunya untuk menuai. kau adalah mentari baginya, juga bagiku.
Umi..
begitu sederhananya wanita itu. tak terpasung banyak ambisi sepertiku. tak banyak yang umi inginkan. yang terpenting dia bisa merawat dan membesarkan kelima anak-anaknya dengan baik. dan gurat-gurat kesedihan, rasa letih dan ketuaan itu...ketegaran umi meruntuhkan keangkuhanku. meluruhkan kerasnya hatiku.
ujian cinta yang kualami, masih tak sebanding dari pada beratnya masa-masa panjang ditinggal pergi suami tercinta. dengan tanggungan lima anak yang masih membutuhkan ayoman dan nafkah sang ayah.
dia...sang umi.
walau terasa singkat aku bertemu. tapi cahaya ketegaran, cinta dan kasih sayang terus terpancar dari kedua bolamatanya.
Umi..walau kau hanya hidup dalam angan dan ingatanku. sosokmu bisa membuatku lebih tegar dan bersyukur kalau aku lebih beruntung. kau ingatkan aku kalau jalan didepanku masih panjang. sekarang saatnya berjuang. nanti ada waktunya untuk menuai. kau adalah mentari baginya, juga bagiku.
Rabu, 09 November 2011
KITA SEMUA SAYANG UKHTI
Kamarku sunyi senyap siang ini. Lain dari biasanya yang sangat berisik, gaduh, dan diramaikan oleh obrolan, jeritan, teriakan, tawa, nyanyian dan isak tangis mereka…anak-anak kobong 19.
Setelah melepas lelah dari berkebun, kobongku sudah sepi. Saat aku datang ternyata mereka sudah pulang untuk menghabiskan liburan semester dirumah. Aku tertidur menenggelamkan semua kemarahan, kekesalan, dan kegemasanku selama ini pada anak-anak kobong 19. Kalkulator saja tidak bisa menghitung berapa kali mereka membuat aku dongkol dengan tingkah laku mereka yang sulit diatur.
Saat aku bangun, kutemukan secarik kertas lalu kubaca.
Buat bunda kita tercinta
Sekali lagi maafin kita…
Assalamualaikum…
Sebelumnya maaf Ukh, kita dah pulank duluan. Kita dah g tahan Ukh kalau di Zirien wae!!!
Kita dah nggak punya uank…
Maaf ya ukh, kita anak kobong yang selalu mengecewakan ukh. Kita sayang Ukh…
By: Salas
Aku menghela nafas panjang. kenangan bersama mereka terus berdatangan. Beberapa kali di tengah malam aku terbangun oleh kegaduhan mereka ketika merayakan ulang Tahun anak kobong. Head set dan bertumbuk-tumpuk bantal yang menutupi telingaku masih belum bisa menyenyakkan tidurku. Kejutan ulang Tahun yang Dholim!!
Dalam 1 bulan dapat 3 kali berturut-turut jadi kobong terkotor, sandal dimasukin terus, piket males, buang sampah sembarangan.
Tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku sangat sayang kalian semua. Sangat dan sangat sayang. Semua kepolosan dan celotehan kalianlah yang sangat aku rindukan. Temani aku disini, ramaikanlah hidupku yang sepi. Hidupkanlah hari—hariku yang terasa mati. Hiasi hari-hariku disini.
Ada Najma yang pintar memainkan pianika, Via yang hobi nangis, Ayu yang jorok, Dila yang malas menyisir rambut, Velia yang imut, Utik yang pintar, Rindani yang kreatif, Isma yang cerewet, Fhika yang manja, Hanifa yang pendiam, Tia yang sipit, Sheila yang penurut, Dwi yang suaranya merdu,Putri yang kadang Lola, Sintia yang polos, Mida dan Shofi yang kompak, Ima yang rajin baca buku , wina dan Yayu yang Rajin…
Dengkuran kalian saat tidur, Tangis kalian saat kangen rumah, bawelnya kalian saat piket kobong, lahapnya kalian saat makan, berisiknya kalian saat aku tidur, perhatian kalian padaku, cara berkerudung kalian yang nggak rapi, Isi lemari kalian yang acak-acakkan, tidur-tiduran saat mengaji, saling berebut menceritakan Smash, kalian yang ngelindur, kalian yang ngantri sms, kalian yang dalam waktu bersamaan dengan semangat nyerocos ditelingaku, sampai aku bingung harus mendengarkan siapa. Kalian yang manis….
Semua itu…aku sangat merindukannya. Seperti ada yang hilang dalam diriku jika kalian pulang. Kadang aku sedih melihat kepergian kalian. Aku merindukan kalian kembali untuk meramaikan sepiku disini. Aku Cuma ingin melihat kalian ceria dan betah disini. Kalian adalah tanggung jawab dunia akhirat bagiku. Terenyuh hatiku saat ibu kalian menitipkan kalian padaku. Saat ibu kalian menggenggam jemariku erat, dengan mata berkaca-kaca menitikkan airmata. Bagi mereka aku adalah satu-satunya harapan. Mereka berharap anak-anaknya bisa berubah menjadi lebih baik. Aku berjanji, aku berjanji bisa menjalankan amanah ini. Dan menikmati berwarnanya hari-hariku bersama kalian, bersahabat dan bersaudara dengan kalian. Kadang aku iri pada kalian. Betapa jauh, sangat jauh aku dibanding kalian. Sangat penuh, perhatian orang tua kalian, tapi saat aku seusia kalian, perhatian dan cinta kasih adalah barang mahal yang sulit aku dapatkan dari orangtua, bahkan hingga kini.
Suatu hari ayah Isma mengirim sms untuk Isma. Aku membayangkan sms itu ditujukan kepadaku dari ayahku sendiri. Walaupun pada kenyataannya tidak.
“ De, Selamat kembali lagi ke Al-Muhajirin. Abah sangat sayang Dede, Harapan Abah Dede jadi anak yang saleha, yang bermanfaat untuk diri Dede sendiri dan semua orang. Abah percaya kalau dalam diri Dede ada sifat-sifat yang baik, hiduplah mandiri saat jauh dari abah dan mamah. Sabar, tawakal dan prihatin adalah kunci yang dapat membuka pintu kebahagiaan dunia maupun akhirat. Semoaga harapan Abah terwujud, Amin…”
Liburan ini, sejenak aku menanti. Menanti ngajar iqro lagi, ngajar mufrodat lagi, ngajar pidato lagi, kuliah lagi, mandi ngantri lagi, membangunkan anak-anak lagi, makan satu piring berdelapan lagi.
Aku tersentak kaget, seharian penuh aku membiarkan cucianku menggenang dalam ember. Pasti sekarang sudah bau karena tak dicuci-cuci. Aku pergi ke hamam, tapi tak kutemukan ember cucianku. Ku cari kesekitar hujroh, masih tak ada.
“Waduh, gimana dong…??”
Tak sengaja aku menoleh ke sudut jemuran di belakang hujroh. Kulihat angin sejuk melambai-lambaikan pakaianku. Baju-bajuku yang semalaman kurendam dan kutelantarkan. Terik matahari telah mengeringkan baju-bajuku. Mataku langsung mendung dan berembun.
Kita sayang ukhti….
Bibirku menggumamkan bacaan yang tertulis di kertas kecil yang terjepitkan di tali jemuran dekat baju-bajuku.
Rabu, 01 Juni 2011
GANTI YANG HALAL
Belum pernah jiwaku merasa sebebas ini. Terhempas, terbang, mengudara mengepakkan sayap semangat dengan ringannya. Aku telah terbebas dari perbudakan yang selama ini telah membelenggu diriku. I’m Free!
Aku hanya akan setia pada prinsipku. Jiwa dan ragaku hanya akan kuserahkan pada orang yang tepat. Diujung sabar yang awalnya terasa pahit, pasti akan berbuah madu yang manis. Cintaku terlalu berharga bahkan sangat berharga untuk kuberikan pada sembarang adam yang belum halal untukku. Teranglah sudah, tersingkap, tersibak, sudah jelas semuanya. Tak kan ada satupun nama yang ku eja diam-diam dalam hatiku. Ini adalah proses latihan yang keras. Allah sedang melatihku. Selama aku hidup, selama itu juga aku akan terus berlatih. Aku berlatih agar hati, jiwa dan imanku kuat. Aku sudah terbiasa. Sang pelatih tidak mungkin membiarkanku terjerembab.
Diam. Biarkan aku diam. Meski tak semua jejak-jejak kenangan itu terhapus. Aku memilih bungkam. Aku adalah wanita bebas sekarang.
Yang terfikirkan olehku adalah bagaimana agar aku bisa meningkatkan kualitasku. Menjadikan diriku merasa lebih berharga. Denga berkarya dan berprestasi. Dengan melakukan semua hal yang bisa membuatku merasa berharga. Dalam keadaan apapun aku berjanji akan selalu merasa ceria.
Kau hanya orang yang nyaris menggoyahkan prinsipku untuk… memberikan cintaku kepada orang yang lebih berhak.
Dengan lantang hatiku mengucapkan ikrarku ini dan langsung menatap lesu jalanan di depanku. Jilbab dan seragam SMU ku basah kuyup oleh guyuran hujan deras. Tapi tidak bisa mengalahkan derasnya air mataku. Ku percepat laju scuter matic-ku. Aku harus pulang, aku ingin mama jadi orang pertama yang membuka amplop surat pengumuman kelulusan ini. Mama, hanya mama. Tapi…rem motorku? Ada apa dengan rem motorku?
***
Kami saling berangkulan. aku mencoba menenangkan hati Tiara yang tengah terombang ambing merasakan luka hatinya yang semakin menganga. Menghadirkan tangis demi tangis yang tak kunjung reda hingga membuat tubuhnya bergetar oleh tangisnya itu. Sudah satu minggu ini Tiara dirawat di rumah sakit karena sakit livernya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah sakit yang menjangkiti perasaannya sebagai perempuan. aku meregangkan pelukanku dan kudongakan wajah Tiara dengan jemariku.
“Selama ini aku telah dipermainkan olehnya. Aku nggak terima. Semudah itukah dia berpaling pada wanita lain. Ketulusan cintaku dibalas penghianatan!” Tiara menangis meraung-raung.
“TUK!!!” aku menjitak kepala Tiara keras-keras hingga gadis itu meringis kesakitan.
“Aduh!!!”
“Hehehe….kayak pemain sinetron aja kamu Tie! Lucu-lucu. Ups! alamak keceplosan!?” Ejekku
“Hiks, kamu jahat! Kamu ngga ngerti perasaanku.”
Aku sedikit membuka mulutku. Tapi tertahan karena ada sesuatu yang tetap inginku sembunyikan.
“Tiara dengerin aku. Kamu nggak gagal. Tapi hanya merasa gagal dan merasa jatuh. Hanya merasa? Ya, ternyata hanya merasa. Kamu sudah berlatih melangkah, mendaki dan sekarang hanya sedikit terkilir. Hehe…Cuma lecet kecil. Jubah malam masih membentang bukan? Pagi yang cerah masih tertawa dengan renyah bukan? Detak jantung dan hembusan nafas masih mengalun bukan? Masih terlukis indah senyum dibibirmu bukan?
Nggak ada yang hancur kok. Tertawalah, tersenyumlah. Jika tangis adalah obat, maka menangislah. “
“apakah aku harus mengubur hidup-hidup perasaanku pada kak Fajar…?”
“Kuburlah hingga menyisakan nafas cinta yang tak halal untuk terakhir kalinya. Aku tahu kak Fajar seperti apa orangnya.”
“kenapa tidak kau katakan dari awal?” Tiara terperanjat
“Karena aku pengin kamu berlatih Tie.”
“Berlatih?”
“Berlatih agar hati, jiwa dan imanmu kuat. Berlatih untuk lebih berhati-hati dalam menjaga cintamu. Tie…cintamu terlalu berharga untuk diberikan kepada lelaki yang belum halal untukmu. Berikanlah cintamu hanya kepada suamimu kelak.”
“Kata-katanya kak Fajar begitu manis tapi mengandung bisa. Racun!”
“Dari cerita yang aku dengar…ternyata modus operandinya sama. Huh dasar cowok nggak kreatif. Janji bakal nikahinlah, muji setinggi langitlah, ngaku belum pernah jatuh cintalah.”
“Kok kamu tahu?”
“Ada seorang gadis yang pernah jadi korbannya. prestasinya di sekolah menurun, nggak lulus ujian dan gagal kuliah di Yaman. Dia mengalami kecelakaan, koma dan kehilangan harapan untuk hidup. Bahkan pisau yang diriskan di pergelangan tangannya tidak bisa menjadi penyembuh luka hatinya itu. First love nya tertuju pada orang yang salah.”
“Ya Allah, tragis sekali. gimana kabar gadis itu sekarang?”
“Dia menikah dengan dokter yang telah merawatnya mulai dari dia koma hingga sembuh kembali. Dia telah menemukan pangerannya sekarang. Menemukan ganti yang halal dan soleh…”
“Dokter Andi?” Tiara menatapku. Matanya kembali berkaca-kaca.
***
“Dik…dia nendang-nendang ya?”
“Iya kang…haduh geli…”
Setelah membacakan dua halaman surat Luqman dengan merdu di dekat perutku yang bergelombang besar ini, kang Andi langsung melakukan hobi barunya. Merasakan tendangan buah hati kami di perutku. Di siang yang taduh ini kami bersua di taman rumah sakit. Seusai memeriksa perkembangan kandunganku dan menjenguk Tiara, kang Andi mengajakku berjalan-jalan.
He is my lovely prince. Pangeran yang kutunggu-tunggu selama 3 tahun kini telah hadir di ujung sabarku. Allah telah menampakannya, menghadirkannya untukku. Hingga akhirnya mimpiku terwujud. Tak hanya sekadar bayangan, bukan lagi sosok yang dirahasiakan Allah…
Kang Andi mengecup perutku dengan lembut dan kubalas kecupannya itu dengan usapan lembut di rambut lurusnya. Membiarkan kang Andi membenamkan wajahnya di perutku. Taman rumah sakit ini begitu sepi. Ketika mataku menyisiri sekeliling taman, pandanganku terhenti pada sesosok lelaki yang bersembunyi memperhatikan kami berdua di balik pohon dari kejauhan.
***
Akang…apapun alasan di balik kebisuanmu. Di balik sikapmu yang tiba-tiba menjauhiku. Menjaga jarak dariku. Aku terima. Apapun alasanmu, pasti itu adalah keputusan terbaik untuk diri akang. Biarkan saja aku bertanya-tanya ihwal kenapa akang menjauh. Bosankah, bencikah, ada masalahkah?
Aku ingin akang tahu satu hal. Aku tidak terbiasa memberikan perhatian yang berlebihan kepada lelaki. Sekali lagi, ini adalah dalam rangka menjaga kesucian hati dan kesucian diri.
Akang…demi mamaku dan demi ummi akang, aku rela menjauh. Sebagaimana aku tidak mau melihat mama sedih melihat anaknya terpuruk karena lelaki. Aku juga tidak mau ummi akang kecewa ketika anaknya terpuruk hanya karena wanita. Jangan sampai ummi akang, cahaya matahari dan bidadari akang redup karena akang gagal menempuh cita karena jeratan cinta. Dan karena godaan fitnah wanita…
“Lia…seandainya suratmu ini datang lebih cepat….mungkin akulah orang yang akan duduk di dekatmu saat ini.” Fajar meremas secarik kertas yang dia genggam. Menyembunyikan dirinya di balik pohon saat dia melihat Lia melihat keberadaannya. Fajar terus meremas surat itu sebagaimana hatinya yang teremas-remas. Menyesali sikapnya di masa lalu.
Lia dan Fajar menghela nafas dan memejamkan kedua bola mata mereka sejenak bersamaan. Membuka file kenangan kebersamaan mereka di masa lalu.
***
“Jangan pernah lupa sama janji akang!”
Rupanya kang Fajar sedang mengingatkanku pada janjinya. Janji yang dulu pernah ia ucapkan. janji itu. Janji yang hanya kami berdua yang tahu. Dan akan terus kucatat dalam ingatanku. Yang selalu kuingat dalam memoriku. Janji untuk menjemputku sebagai bidadarinya…
“Janji apa coba?” tanya kang Fajar, mencoba mengetesku.
“janji nraktir es krim?”
“Bukan ah!”
“Apa dong, Lia takut salah nebak nih?”aku pura-pura tidak tahu padahal aku tahu
“Akang ngegendong Lia”
Hah? Sejak kapan kang Fajar berjanji seperti itu?
“Oh…janji ya! Kalau gitu Lia mau nurunin berat badan Lia dari sekarang. Supaya ringan. OK!”
“Jangan, nggak rame kalau ringan mah.”
“Susah gemuknya akang, Lia mah makannya sedikit.”
“makan batu aja coba.”
“Akang tuh makan beling.”
“Bukan…akang mah makan buaya.”
“Nggak mau deket-deket ah! Takut di gigit.”
“nggak paling dimakan!”
***
Menjauh dan dingin. Aku tak tahu kenapa kang Fajar berubah seperti itu. Terasa ada gurat kebencian yang dia perlihatkan padaku. Selama ini, pasang surut hubungan backstreet kami selalu terjadi. Aku tidak tahu apa yang sedang dia fikirkan. Aku hanya diam. Secepat itukah semua ini harus berakhir. Mencintai lelaki yang belum halal selalu berakhir menyakitkan bagiku. Kandas…musnah…
Janji itu, masihkah terukir di cadas hatinya?
***
“Terlalu banyak hati yang tersakiti. Dia memang lelaki yang hobi mempermainkan dan menyakiti hati wanita. Mudah berpaling pada wanita yang lain. Tapi katanya sekarang dia sedang menjalin hubungan serius sama Elma. Rencananya dua bulan lagi mau tunangan. Mudah-mudahan Elma bukan korban berikutnya. Biar tobatlah si Fajar itu. Dasar buaya!”
Karena itu…karena itu kang Fajar menjauhiku. Karena itu…
Sabtu, 14 Mei 2011
HATI YANG TERCURI
Kita bukan siapa-siapa. Tak ada hubungan apa-apa. Dan tidak terjalin ikatan apa-apa. Tapi…kita sudah saling mengakui perasaan kita masing-masing. Kita sudah mau jujur pada perasaan kita masing-masing. Dia tidak mau memiliki aku. Dan aku juga tidak mau mengikatnya. Yang termiliki adalah hati kami. Sekarang yang tercuri adalah hati kami. Tak ada niat untuk saling mengganggu. Meski tak bisa di pungkiri bayangan kami selalu saja saling mengganggu. Aku bilang dia pemuda pengganggu. Dia bilang aku sebagai gadis pengganggu. Dia juga bilang kalau aku adalah mentari yang setitik cahayanya selalu mengganggu jiwanya.
Perasaan kami ini sebenarnya perasaan apa? Kini Allah mempertemukan kami setelah waktu 4 tahun berlalu semenjak masa-masa itu. Saat di mana tak ada sedikitpun prasangka kalau kami akan menjadi seperti ini nantinya.
Kini kami hanya bisa menjalani hari di mana kami tidak bisa saling menyapa. Bertatap muka, mengobrol dan bercengkrama dengan lebih leluasa. Kami sudah berjanji untuk saling membatasi diri. Menjaga diri, dan merahasiakan perasaan ini dari semua orang. Saatnya pasti datang. Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat di mana dia akan menjemputku sebagai bidadarinya. Sebagai satu di antara banyak mentari yang akan selalu menghangatkan jiwanya. Lewat dia Allah telah membuatku berusaha untuk menata diri. Menjadi wanita sejati dan tidak tomboy lagi.
Menyayangi dia benar-benar beresiko tinggi. Beresiko sakit hati, kecewa dan cemburu. Karena banyak gadis lain yang menginginkannya. Tapi dia berkata kalau dia lebih cenderung padaku dari pada yang lainnya. Biar Allah saja yang membuktikan dia tulus atau tidak mengatakannya.
Dan kini, aku telah sampai pada sebuah persimpangan. Persimpangan yang akan menentukan arah hidupku kedepan. Melangkahkan diri ini kemana dan di mana. Berada diantara cinta atau cita-cita. Diantara idealisme dan perasaan. Diantara harga diri dan romantisme hidup. Semua itu bisakah berjalan beriringan? Semuanya itu,bisakah melangkah bersama.
Aku takut jiwaku kembali rusak. Berkali-kali jatuh tersungkur dalam kisah yang sama. Meskipun aku di buat jatuh, tapi aku masih bisa merangkak dan bangun lagi. Bangun lagi dalam waktu yang lama. Aku tahu yang merusak jiwaku adalah diriku sendiri. Terlalu membentangkan harapan, terlalu tunduk pada perasaan, terlalu hanyut dalam mimpi, terbuai dengan kata-kata manis. Melupakan cita-cita, mengabaikan harga diri, dan melumpuhkan idealisme hidupku. Rasa sakit itu adalah aku sendiri yang menciptakan. Aku.
Simpan dan berikan cinta hanya kepada orang yang lebih berhak. Titik! Hanya itu, camkan itu!
SATU TAHUN
Satu tahun? Menunggu ketidakpastian selama satu tahun? Menunggu dan memikirkan seseorang yang bahkan dalam waktu satu tahun ini sama sekali tidak tahu kalau aku siap untuk hidup dengannya? Jadi satu tahun ini aku telah menunggu sebuah ketidak jelasan. Mengumpulkan rasa pada orang yang kuharap menjadi satu-satunya orang yang berhak mendapatkan rasa cintaku. Orang yang kuharap menjadi imam dalam hidupku. Dan orang yang akan menjadikanku sebagai ustadzah dalam keluarga yang akan kita bina.
Dari pada terlahir kembali rasa sakit yang baru, lebih baik aku lupakan saja dia. Kubunuh kembali perasaanku. Seperti yang sering ku lakukan dulu. Membunuh perasaan yang ditujukan pada orang-orang yang tidak menyambut cintaku. Yang mengecewakanku. Lalu aku kembali mengutamakan akal dan logikaku daripada perasaanku.
Ada sedikit rasa kecewa pada kak Yana yang satu tahun lalu menawarkan dia padaku. Dan juga menawarkan aku padanya. Berharap hubungan persahabatan kak yana dengannya berubah menjadi keluarga jika aku bersanding dengannya.
Mencoba untuk tidak mengulang kesalahan yang sama aku menahan diri untuk bertanya terlalu banyak tentang dia. Mengumbar cerita tentangnya pada orang lain, menahan diri untuk tidak membuka profilnya di facebook. Diantara orang yang nyaris menyentuh hatiku, hanya cerita tentang dia yang sama sekali tidak kutulis dalam diary-ku. Sama sekali tidak tercantum namanya dalam diary-ku. Tak ada kisah tentang diriku dan dia dalam diary-ku. Tak ada gambar wajahnya yang menghiasi buku sketsaku. Hingga akhirnya dia meng-add aku lebih dulu. Menyapa salam lebih dulu saat tak sengaja kami cathing dan online di waktu yang bersamaan. Sering mengomentari statusku dan mentag aku di salah satu fotonya.
Semua hal kecil itu adalah keajaiban bagiku. Membuatku tersenyum-senyum sendiri saaat membaca komentarnya yang singkat. tapi lebih senang lagi ketika dia memberikan komentar yang panjang. Hal-hal kecil itu membuatku mengumpulkan segenap keberanianku untuk menandai dirinya dalam salah satu catatanku. Agar dia membaca cerpenku. Ketika aku tahu kalau dia sangat peduli pada muslim Palestina, aku langsung membuat sebuah cerpen, lalu ku copy di catatan facebook dan kutandai namanya. Fostingan cerpen terbaruku: Sepenggal Kisah Cinta di Palestina.
Jauh dari anggapan bahwa facebook itu lebih banyak madorotnya, sebaliknya aku selalu merasa pintar dan bertambah pintar setiap membuka facebook. Karena akhirnya, setiap online aku selalu membuka profilnya dan membaca status-statusnya yang selalu berisi nasihat agama. Statusnya selalu bermanfaat, selalu membuatku merenung. Dia selalu membawa kabar gembira dari Al-Qur’an lewat statusnya. Setiap satusnya yang kubaca adalah Ayat-ayat al-Qur’an yang di tafsirkan oleh kata-katanya yang sederhana, bersahabat dan menyentuh. Selama satu tahun itu aku menimba ilmu padanya. Tapi dalam satu tahun itu, aku sama sekali tidak pernah mengomentari statusnya. Aku masih tetap menahan diriku. Satu-satunya pesan yang kukirim di dindingnya hanya satu.
“Thanks for add. . .”
Tanpa seijin dia aku mengcopy semua catatannya. Dan kusimpan dalam folder khusus di laptopku. Tapi lagi-lagi tak ada satupun catatannya terdapat komentarku. Selalu ku lihat apakah dia menulis catatan baru atau tidak. Di beranda yang ingin kubaca hanya statusnya. Sekali lagi hanya statusnya. Sampai aku hapal jika dalam satu minggu tak kutemukan statusnya, berarti dia sedang sibuk.
Begitulah, dalam satu tahun aku hanya mengenalnya lewat facebook. Bahkan kak Yana sendiri sama sekali tidak bercerita banyak tentangnya. Kakakku itu hanya menyuruhku untuk beristikhoroh. Dan menasihatiku kalau jodoh tak akan kemana. Hanya itu! Tapi memang lebih baik seperti itu, mungkin kakakku juga tidak mau konsentrasi belajarku terganggu atau dia sendiri tidak mau melihat adiknya ini kembali kecewa karena lelaki. Dan karena terlalu menumbuhkan harapan pada lelaki. Para lelaki yang semuanya berkacamata. Sehingga membuatku trauma dan tidak menyukai setiap lelaki berkacamata.
Tapi sekarang masa satu tahun itu sudah habis. Sudah habis. Dia sudah pulang dari Mesir dan sekarang telah berdiri di depanku yang duduk di barisan kursi paling depan mendengarkan dirinya yang sedang menyampaikan ceramah mata kuliah pengantar Studi Islam. Di mataku, sekarang dia menyandang status sebagai teman di facebook dan dosenku. Tak lebih.
“ada yang mau di tanyakan?” tanya dia pada semua mahasiswa semester tiga jurusan tafsir hadits di ruangan ini.
Aku selalu tidak rela mahasiswa lain mendahuluiku bertanya. Aku bertanya dan terus bertanya. Jika ada materi yang kurang jelas aku selalu harus bertanya. Dan tetap tidak puas bertanya. Hingga mungkin di matanya aku berstatus teman di facebook dan mahasiswanya yang aktif.
Hingga ketika dia selesai menjawab semua pertanyaanku dengan jelas. Kali ini giliran hatiku yang bertanya. Apakah kau tahu kalau aku siap menjadi pendampingmu? Kapan status ku di facebook dari yang tadinya berteman berubah menjadi : menikah dengan Salman Al-Farisi?
Langganan:
Postingan (Atom)
